Lebak, Gertak.id - Pemerintah Desa Mekarsari, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, terus mendorong penguatan ketahanan pangan desa melalui pengembangan usaha produktif berbasis Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Program tersebut direalisasikan melalui budidaya ayam petelur yang saat ini telah berjalan dan mulai berproduksi.
Program Ketahanan Pangan (Ketapang) desa ini menjadi bagian dari pemanfaatan Dana Desa yang diarahkan untuk mendukung ketersediaan pangan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat di tingkat desa.
Kepala Desa Mekarsari, Agun Hermawan, menjelaskan bahwa sektor peternakan ayam petelur dipilih karena memiliki potensi produksi yang stabil dan dapat membantu memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat.
“Program Ketahanan Pangan di Desa Mekarsari difokuskan pada sektor peternakan, khususnya budidaya ayam petelur yang dikelola melalui BUMDes. Kami berharap usaha ini tidak hanya memperkuat ketersediaan pangan, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat desa,” ujarnya, Selasa (10/3/26)
Sementara itu, Ketua BUMDes Mekarsari, Jenal Aripin, menjelaskan bahwa unit usaha tersebut saat ini telah berjalan sekitar empat bulan dan sudah mulai menghasilkan produksi telur.
“Alhamdulillah, program ini sudah berjalan sekitar empat bulan dan saat ini sudah berproduksi. Secara kumulatif progresnya berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun sejak awal,” kata Jenal.
Ia menyebutkan bahwa dari sisi produksi, usaha ayam petelur tersebut sudah menunjukkan perkembangan yang cukup baik.
“Saat ini angka produksi sudah mencapai sekitar 60 persen. Hasil telur yang diproduksi juga sudah mulai disuplai ke wilayah desa dan saat ini telah menjangkau tiga RW dari total tujuh RW yang ada di Desa Mekarsari,” jelasnya.
Selain memperkuat ketersediaan pangan, keberadaan usaha ini juga diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh telur dengan harga yang lebih terjangkau, terutama di tengah kondisi harga yang kerap mengalami kenaikan.
“Kami berupaya menjaga harga tetap terjangkau bagi warga, apalagi saat ini pasokan telur di beberapa wilayah mengalami tekanan karena sebagian terserap untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG),” tambahnya.
Meski demikian, pengelolaan usaha peternakan ini juga menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait fluktuasi harga pakan yang berpengaruh langsung terhadap biaya produksi.
“Tantangan utama yang kami hadapi adalah naik turunnya harga pakan. Kondisi ini tentu berdampak pada biaya produksi. Harapannya pemerintah dapat membantu menyediakan pasokan pakan dengan harga yang lebih terjangkau bagi para peternak,” ujar Jenal.
Di sisi lain, keberadaan usaha peternakan ayam petelur ini mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Selain mempermudah akses terhadap bahan pangan bergizi, usaha tersebut juga membuka peluang ekonomi baru di desa.