daerah

Atap Perpustakaan SMA Negeri 3 Kota Pekalongan Roboh, Anggaran Capai Rp3,6 Miliar

Senin, 23 Februari 2026 | 20:40 WIB
Dinas Provinsi Jateng Dalami Dugaan Ketidaksesuaian Spesifikasi Proyek SMK 3 Pekalongan

Pekalongan – Atap ruang perpustakaan di SMA Negeri 3 Kota Pekalongan dilaporkan roboh pada Jumat (20/2/2026) sekitar pukul 15.00 WIB. Bangunan tersebut diketahui baru selesai dibangun pada Desember 2025 dengan menggunakan anggaran APBD Provinsi Jawa Tengah.

Peristiwa terjadi saat hujan dengan intensitas cukup lebat mengguyur wilayah Kota Pekalongan sejak sekitar pukul 14.00 WIB. Selang beberapa waktu kemudian, terdengar suara gemuruh dari arah bangunan sekolah.

Kepala sekolah setempat, Moh. Dul Salam, membenarkan kejadian tersebut saat ditemui di lokasi oleh tim jurnalis Gertak.id pada Senin (23/2/2026).

Menurutnya, suara gemuruh terdengar tidak lama setelah hujan deras berlangsung. Ketika dilakukan pengecekan, atap ruang perpustakaan yang baru selesai dibangun ditemukan dalam kondisi roboh.

“Benar, saat kejadian hujan cukup lebat. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini,” ujarnya.

Ia memastikan bahwa pada saat kejadian tidak ada aktivitas siswa di dalam ruangan tersebut sehingga tidak menimbulkan korban luka maupun korban jiwa.

Bangunan yang roboh tersebut diketahui menggunakan rangka baja ringan dengan penutup atap genteng. Proyek pembangunan itu menelan anggaran sekitar Rp3,6 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi Jawa Tengah.

Pihak sekolah menyatakan telah berkoordinasi dengan dinas terkait di tingkat provinsi untuk penanganan lebih lanjut.

Sementara itu, Kusno selaku Kepala Bidang dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap proyek tersebut.

Ia menjelaskan, pemeriksaan akan mencakup tim teknis perencanaan hingga pelaksanaan pekerjaan di lapangan guna memastikan penyebab robohnya atap.

Berdasarkan temuan sementara, terdapat dugaan ketidaksesuaian spesifikasi material. Dalam dokumen perencanaan disebutkan penggunaan atap jenis multiroof, namun di lapangan ditemukan penggunaan genteng Jatiwangi.

“Kami masih melakukan pendalaman lebih lanjut terkait spesifikasi dan pelaksanaan pekerjaan,” ujarnya.

Dinas terkait menegaskan akan menelusuri proses pengadaan hingga pelaksanaan proyek untuk memastikan apakah terdapat kelalaian atau pelanggaran teknis.

Hingga berita ini diturunkan, area bangunan yang roboh telah dipasangi pembatas untuk menghindari risiko lanjutan. Pihak sekolah menunggu hasil investigasi resmi dari dinas provinsi guna menentukan langkah perbaikan berikutnya.

Halaman:

Tags

Terkini