Gertak.id | Sumba Barat Daya – Siang itu, di sudut meja persiapan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ramadana, Kecamatan Laura, Kabupaten Sumba Barat Daya, Frederick Norewa berdiri dengan pisau di tangan. Potongan ayam, irisan wortel, kacang panjang, buncis, hingga tempe tertata rapi, menunggu sentuhan para juru masak. Dari meja sederhana itulah ribuan porsi makanan untuk anak-anak desa bermula.
“Saya potong-potong ayam kalau ada menu ayamnya, terus wortel, kacang panjang, buncis, tempe. Bawang ada juga, bawang putih, bawang merah,” ujarnya saat ditemui di tempatnya bekerja, Jumat (13/2). Ia memperkenalkan diri dengan tenang. “Saya Frederick Norewa, asal dari Desa Letekonda.”
Frederick adalah bagian dari tim persiapan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tugasnya mungkin terlihat sederhana, namun perannya penting. Dari tangannya, bahan mentah diolah menjadi sajian yang akan mengisi perut anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita.
Di balik ketenangan itu, tersimpan kisah kelam. Tahun 1991 menjadi titik gelap dalam hidupnya. Ia terseret kasus penganiayaan berat akibat sengketa batas tanah dengan sepupu jauhnya. “Itu masalah perbatasan tanah. Bukan karena ekonomi,” katanya lirih.
Awalnya hanya adu mulut. Namun situasi memanas. “Yang pertama itu kita masih sempat bersilat lidah, terus kita masih baku ancam. Kali ketiga itu sempat terjadinya kriminal itu. Mereka ada empat orang. Saya sendirian. Saya takut, begitu saya ayun langkah, satu kali.
Tangannya putus,” kenangnya. Vonis delapan tahun dijatuhkan hakim. Setelah mengajukan keringanan, ia menjalani hukuman enam tahun yang kemudian dipotong remisi menjadi empat tahun enam bulan.
Persoalan itu kini telah lama diselesaikan secara adat. Perdamaian ditempuh dengan satu ekor kuda dan satu ekor kerbau. “Kemarin sudah damai,” ujarnya singkat. Tak ada lagi amarah di wajahnya, hanya sisa kenangan yang telah diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Keluar dari penjara bukan berarti bebas dari hukuman sosial. Frederick kembali ke kebun. Jika ada proyek bangunan di sekitar desa, ia bekerja sebagai tukang pasang batu. “Kalau kerja bangunan, 60 sampai 80 ribu per hari. Tapi itu pun kalau ada panggilan,” katanya. Hasil kebun pun tak menentu. “Setahun paling sekitar 7–8 juta. Itu pun kalau panennya bagus. Alam yang berkuasa.”
Label mantan narapidana bukan beban ringan. “Secara pribadi memang sulit. Tapi apapun dan bagaimanapun, saya jalani,” ucapnya tegar.
Kesempatan itu datang ketika ia melihat bangunan baru berdiri tak jauh dari rumahnya. Ia mencari tahu dan mengetahui bahwa itu adalah dapur Program Makan Bergizi Gratis, program nasional yang digagas pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Frederick memberanikan diri menawarkan tenaga. Ia diterima.
“Sekalipun saya mantan narapidana, saya bersyukur masih diterima bekerja di sini,” katanya penuh rasa syukur.
Sejak itu, hidupnya perlahan berubah. Ada kepastian insentif setiap bulan—sesuatu yang tak pernah ia rasakan ketika bergantung pada kebun dan proyek musiman. “Kalau di kebun, saya tidak tahu alam yang berkuasa. Di sini saya hanya menunggu kapan menerima insentif,” ujarnya dengan senyum kecil.
Lebih dari sekadar penghasilan, ia merasakan kebanggaan. Ia tahu betul kondisi anak-anak di kampungnya. “Kadang anak-anak makan atau enggak, mereka jalan saja pergi sekolah. Dan itu membuat anak jadi lemah, bahkan pingsan,” tuturnya. Kini, ia melihat perbedaan. “Mungkin lewat adanya sentuhan MBG ini, anak itu senang. Senang sekali. Dan bahkan kita orang tua juga sangat senang.”