*Oleh: Dedek.W - Jurnalis Warga Batam*
Batam,gertak.id - Ironi Kota Batam hari ini. Jalan dibangun lebar dan mulus dengan anggaran miliaran rupiah dari pajak rakyat, tapi yang menikmati bukan pengendara, melainkan deretan tenda PKL, gerobak, dan parkir liar. Hasilnya, kota yang dulu lenggang, kini macet di mana-mana,Jumat 09 Oktober 2026.
Kemacetan parah terjadi setiap hari, baik saat hujan disertai banjir maupun saat cuaca terik. Jalan yang seharusnya dua lajur, efektif hanya tersisa satu lajur karena sisi kiri dan kanan sudah penuh lapak dan kendaraan parkir.
Fenomena ini terlihat jelas di jalan-jalan utama yang baru diperlebar:
1. Sepanjang Jalan Raja H. Fisabilillah, depan SP Plaza Batu Aji.
2. Jalan Letjen Suprapto, Muka Kuning sampai Sei Beduk.
3. Jalan Laksamana Bintan, sekitar Pasar Pagi Bengkong dan Fanindo.
Macet terjadi pada jam berangkat kerja pukul 06.30-08.00 WIB dan jam pulang kerja pukul 16.30-18.30 WIB, hujan atau tidak.
Yang dirugikan adalah jutaan pengguna jalan: pekerja, anak sekolah, dan driver ojek online. Sementara fungsi jalan kini bergeser: pagi jadi lahan parkir motor pembeli, siang jadi lapak jualan buah, gorengan, dan pakaian bekas, malam jadi pasar kaget. PKL butuh makan, kita paham. Tapi kenapa harus di badan jalan?
Ini bukan salah PKL sepenuhnya. Ini adalah salah pembiaran.
Pertama, tidak ada relokasi yang jelas. PKL diusir hari ini, besok balik lagi karena tidak disediakan tempat yang layak dan ramai pembeli.