Dinkes Turun Tangan Selidiki Dugaan Keracunan Resto 88 Seoul Bandung, 24 Kasus Dilaporkan

Photo Author
Selamet Riyadi, Gertakberita.com
- Kamis, 8 Oktober 2026 | 06:33 WIB

Gertak.id |  BANDUNG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung turun tangan menyelidiki dugaan keracunan makanan yang dikaitkan dengan restoran 88 Seoul di Mal 23 Paskal, Bandung. Hingga Selasa, 6 Oktober 2026 sore, Dinkes mencatat sedikitnya 24 laporan kasus dengan keluhan kesehatan setelah menyantap makanan di restoran tersebut.

Hasil pemeriksaan awal Dinkes menemukan sejumlah aspek higiene dan sanitasi restoran yang masih perlu diperbaiki. Temuan tersebut mencakup penataan lokasi, peralatan, bahan makanan hingga penerapan standar operasional prosedur (SOP).

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung, Dewi Primasari, mengatakan pemeriksaan awal menunjukkan masih terdapat sejumlah aspek yang perlu mendapat perhatian dari pihak restoran.

“Secara umum dari pemeriksaan awal memang masih ada beberapa hal terkait higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki lagi oleh pihak restoran,” ujar Dewi dalam keterangannya di laman bandung.go.id, dikutip Rabu, 7 Oktober 2026.

Dinkes juga menyoroti penataan bahan makanan segar dan bahan makanan kering. Bahan makanan tersebut harus dipisahkan dengan bahan kimia, termasuk cairan pembersih dan sabun pencuci piring.

“Masih perlu diperbaiki pemisahan-pemisahannya. Kemudian karena lokasinya tidak begitu luas, perlu penataan ulang,” kata Dewi.

Selain penataan, Dinkes mencermati penerapan sistem first in first out (FIFO) dan first expired first out (FEFO) dalam penyimpanan maupun penggunaan bahan makanan. Sistem tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan bahan yang digunakan sesuai masa penyimpanan dan kedaluwarsanya.

Sorotan juga diarahkan kepada para pekerja yang menangani proses pengolahan hingga penyajian makanan kepada konsumen. Dinkes menilai aspek perilaku dan perlengkapan pelindung diri penjamah makanan masih perlu diperbaiki.

“Dari faktor perilaku, penjamah makanan juga perlu diperbaiki. Pelindung dirinya, masker, kemudian yang tidak berkerudung atau laki-laki menggunakan hair net,” jelas Dewi.

Sementara itu, 24 laporan dugaan kasus tersebut menunjukkan gejala yang muncul dalam rentang waktu berbeda. Dinkes mencatat gejala paling cepat dilaporkan sekitar dua jam setelah mengonsumsi makanan, sedangkan yang paling lambat sekitar 12 jam kemudian.

Keluhan yang dilaporkan antara lain sakit perut, mual, muntah hingga buang air besar cair atau diare. Namun, dugaan tersebut masih dalam proses investigasi dan belum dapat disimpulkan sebagai keracunan yang disebabkan oleh makanan restoran tersebut.

Pihak restoran 88 Seoul sendiri telah memberikan tanggapan atas keluhan pelanggan yang ramai diperbincangkan di media sosial. Restoran menyatakan akan fokus pada penanganan keluhan sekaligus memberikan bantuan kepada pelanggan yang terdampak.

Sebagai bagian dari respons terhadap persoalan tersebut, operasional restoran 88 Seoul dihentikan sementara pada 7 dan 8 Oktober 2026.

Kasus ini mencuat setelah sejumlah pengguna media sosial di platform Threads mengaku mengalami berbagai keluhan kesehatan, mulai dari mual, diare hingga demam tinggi setelah menyantap makanan di restoran tersebut. Beberapa di antaranya mengaku harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Selamet Riyadi

Rekomendasi

Terkini

X