Budaya Jangan Sampai Mati di Tangan Zaman, PS Bhirawa Anoraga Kobarkan Silat di Pabean Udik

Photo Author
Selamet Riyadi, Gertakberita.com
- Minggu, 4 Oktober 2026 | 22:31 WIB

Gertak.id | INDRAMAYU – Ketika generasi muda semakin akrab dengan budaya digital dan mulai menjauh dari kesenian tradisional, PS Bhirawa Anoraga justru tampil membawa pesan tegas: pencak silat tidak boleh mati di tangan zaman.

Pesan itu ditunjukkan melalui penampilan para pesilat muda PS Bhirawa Anoraga dalam rangkaian Gelar Budaya Adat Desa Pabean Udik, Kabupaten Indramayu.

Mengenakan pakaian serba hitam, para pesilat muda tampil penuh konsentrasi dan percaya diri. Gerakan jurus, sikap tubuh hingga rangkaian atraksi diperagakan secara kompak dan berhasil menarik perhatian masyarakat yang hadir.

Namun, penampilan tersebut bukan sekadar pertunjukan bela diri.

Di balik setiap gerakan, ada proses panjang membangun mental, kedisiplinan, keberanian sekaligus karakter anak-anak agar tidak kehilangan jati diri di tengah derasnya perubahan zaman.

Pelatih PS Bhirawa Anoraga, Yanto, mengatakan pencak silat tidak boleh berhenti hanya sebagai tontonan atau pertunjukan. Menurutnya, silat harus menjadi sarana membentuk karakter generasi muda.

“Kami ingin anak-anak bukan hanya bisa silat, tetapi juga memiliki mental, disiplin, keberanian dan sopan santun. Silat mengajarkan mereka untuk kuat, tetapi bukan berarti harus keras kepada orang lain. Justru semakin kuat, semakin harus bisa mengendalikan diri,” ujar Yanto.

Ia menegaskan, pelestarian budaya harus dimulai dari generasi muda. Jangan sampai pencak silat yang merupakan warisan leluhur hanya menjadi cerita bagi generasi berikutnya.

“Kalau bukan kita yang mengenalkan dan mengajarkan kepada anak-anak, siapa lagi? Jangan sampai pencak silat hanya tinggal nama atau cerita dari orang-orang terdahulu. Kami ingin anak-anak sekarang menjadi generasi yang meneruskan dan menghidupkan budaya ini,” tegasnya.

Menurut Yanto, panggung budaya seperti Gelar Budaya Adat Desa Pabean Udik memiliki arti penting. Anak-anak tidak hanya diberi kesempatan untuk menunjukkan hasil latihan, tetapi juga diajak berani tampil dan memahami bahwa budaya daerah merupakan bagian dari identitas mereka.

Di tengah derasnya arus budaya modern, ancaman terhadap budaya tidak selalu datang dalam bentuk larangan. Budaya bisa kehilangan masa depan ketika tidak lagi dipelajari, tidak diminati dan tidak diwariskan.

Karena itu, keberadaan perguruan silat seperti PS Bhirawa Anoraga menjadi penting. Latihan silat bukan hanya membentuk kekuatan fisik, tetapi juga menanamkan disiplin, tata krama, keberanian, tanggung jawab, pengendalian diri dan penghormatan terhadap sesama.

“Kami tidak mengejar anak-anak hanya untuk menjadi pesilat yang hebat. Yang lebih penting, mereka tumbuh menjadi anak yang berkarakter, disiplin, rendah hati dan mampu menghargai orang lain. Itulah nilai yang ingin kami tanamkan melalui silat,” pungkas Yanto.

Penampilan para pesilat muda PS Bhirawa Anoraga pun menjadi bukti bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat di tengah generasi muda.

Mereka bukan sekadar tampil untuk mendapatkan tepuk tangan. Mereka hadir membawa pesan bahwa budaya tidak boleh kalah oleh perkembangan zaman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Selamet Riyadi

Rekomendasi

Terkini

X