Gertak.id | Jigaja - Kabar duka menyelimuti kegiatan Audax Jogja 200 yang berlangsung pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Seorang peserta bernama Astaria dikabarkan meninggal dunia saat mengikuti kegiatan bersepeda jarak jauh tersebut.
Kabar meninggalnya Astaria beredar luas melalui sejumlah unggahan di media sosial Threads. Salah satunya disampaikan akun @wahyu**** yang menyebut Astaria merupakan peserta Audax 200.
“Innalillahi wa innailaihi raji’un, Astaria (peserta Audax 200) meninggal dunia,” tulis akun tersebut dalam unggahannya.
Akun tersebut juga mengajak pengguna media sosial untuk mendoakan almarhumah atas kabar duka yang menimpa peserta Audax Jogja 200 tersebut.
Ucapan belasungkawa juga disampaikan akun @anantha*****. Akun tersebut mengaku turut berduka setelah mendapatkan kabar mengenai peserta Audax Jogja yang meninggal dunia.
Sementara itu, akun @vero******* mengungkapkan bahwa dirinya sempat bertemu dengan Astaria sekitar dua hari sebelum kegiatan Audax Jogja 200. Saat itu, Astaria disebut tengah melakukan latihan bersepeda sebagai persiapan mengikuti kegiatan tersebut.
Dalam unggahannya, keduanya bahkan disebut sempat memiliki rencana untuk kembali bersepeda bersama setelah kegiatan Audax selesai. Namun, rencana tersebut tidak pernah terwujud setelah Astaria dikabarkan meninggal dunia.
Di tengah kabar duka tersebut, beredar pula informasi di media sosial yang menyebut insiden berkaitan dengan masalah pada rem sepeda. Informasi itu bahkan disebut-sebut sebagai dugaan penyebab terjadinya kecelakaan.
Namun demikian, hingga berita ini ditulis, informasi mengenai rem bermasalah tersebut belum mendapatkan konfirmasi resmi dari pihak berwenang maupun penyelenggara. Karena itu, penyebab pasti kecelakaan yang mengakibatkan Astaria meninggal dunia masih belum dapat dipastikan.
Audax merupakan kegiatan bersepeda jarak jauh yang memiliki karakter berbeda dengan perlombaan sepeda pada umumnya. Peserta dituntut menyelesaikan rute yang telah ditentukan dalam batas waktu tertentu, dengan mengandalkan kemampuan dan ketahanan masing-masing peserta.
Untuk format BRM 200, Audax Club Parisien menetapkan batas waktu penyelesaian selama 13 jam 30 menit. Adapun rute dan teknis pelaksanaan dapat menyesuaikan penyelenggaraan masing-masing kegiatan.
Kabar meninggalnya Astaria menjadi duka mendalam bagi komunitas pesepeda yang mengenalnya. Sejumlah unggahan di media sosial dipenuhi ucapan belasungkawa dan doa untuk almarhumah.
Publik juga berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan menghadapi musibah tersebut. Sementara terkait penyebab kecelakaan, masyarakat diminta tidak terburu-buru menyimpulkan sebelum adanya keterangan resmi yang dapat dipertanggungjawabkan.