Gertak.id | Jakarta — Tiga puluh enam tahun bukan waktu yang singkat bagi sebuah organisasi yang lahir dari kegelisahan politik, dirawat oleh persahabatan, dan tumbuh bersama perjalanan panjang para aktivis Indonesia.
Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (HUMANIKA) memperingati 36 tahun berdirinya pada Jumat, 18 September 2026, di Jakarta Selatan. Perayaan tersebut dihadiri lebih dari seribu orang dari berbagai latar belakang profesi dan spektrum politik.
Penulis sekaligus aktivis Hamid Basyaib menjadi salah satu tokoh yang hadir. Dalam tulisan yang diunggah melalui akun Facebook-nya, Hamid menggambarkan HUMANIKA sebagai organisasi yang secara perlahan menjelma menjadi bagian penting dari sejarah perjalanan aktivisme politik Indonesia.
Hamid menyebut, para alumni HUMANIKA datang dari berbagai warna politik. Sebagian di antaranya kemudian menempati posisi strategis, mulai dari menteri dan wakil menteri, anggota DPR dari berbagai partai, kepala daerah hingga komisaris BUMN.
Menurut Hamid, HUMANIKA lahir pada 1990 di tengah suasana politik yang membuat banyak aktivis muda merasakan kegelisahan. Kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) pada masa Orde Baru turut membatasi ruang gerak politik mahasiswa di dalam kampus.
HUMANIKA kemudian hadir sebagai ruang pertemuan berbagai kelompok aktivis. Basis awalnya berasal dari lingkungan Kelompok Cipayung yang mempertemukan aktivis HMI, PMKRI, GMNI, PMII dan GMKI. Pemicu awal pembentukannya disebut berkaitan dengan pembebasan tokoh mahasiswa Universitas Jayabaya, Erlangga, dari penjara politik.
Di balik kelahiran organisasi tersebut terdapat sosok Bursah Zarnubi. Meski berlatar belakang HMI, Bursah mendapat dukungan dan inspirasi dari sejumlah tokoh senior, termasuk Ekky Syahrudin dan Hariman Siregar, tokoh yang dikenal sebagai salah satu figur utama dalam gerakan Malari 1974.
Dalam sambutannya pada perayaan 36 tahun HUMANIKA, Bursah mengenang Hariman sebagai salah satu tokoh yang secara langsung memberikan inspirasi terhadap berdirinya organisasi tersebut.
Bagi Hamid, perjalanan Bursah juga menjadi gambaran tentang bagaimana seorang aktivis dapat membawa nilai-nilai yang dibangun sejak masa pergerakan ke dalam perjalanan politik dan pemerintahan. Bursah pernah menjadi anggota DPR dan Ketua Partai Bintang Reformasi, serta kini menjabat sebagai Bupati Lahat dan Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi).
Namun, di balik perjalanan panjang Bursah sebagai aktivis dan politisi, Hamid justru memberikan perhatian khusus kepada sosok Sri Meliyana atau Melly Zarnubi, istrinya.
Hamid menggambarkan Melly sebagai sosok yang memiliki kemampuan bercerita dengan kuat dan alami. Dari cerita Melly, terungkap sisi lain perjalanan awal HUMANIKA yang tidak selalu terlihat dari panggung politik—termasuk bagaimana kehidupan keluarga dan aktivitas organisasi berjalan beriringan dalam situasi ekonomi dan politik yang penuh keterbatasan.
Salah satu cerita yang paling membekas adalah mengenai rumah kontrakan Bursah dan Melly di Gang Poncol, Jakarta Selatan. Tempat sederhana tersebut pernah menjadi ruang diskusi rutin para aktivis HUMANIKA. Menariknya, setiap pertemuan selalu disiapkan hidangan sate ayam dan lontong.
Menurut cerita Melly yang disampaikan kembali oleh Hamid, biaya makanan tersebut sebagian berasal dari gajinya sendiri. Ia merasa para mahasiswa dan demonstran yang mengikuti diskusi perlu tetap diperhatikan kondisi fisiknya di tengah aktivitas perjuangan mereka.
Kisah itu memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah organisasi tidak hanya dibangun melalui pidato, rapat dan aksi jalanan. Ada pula tangan-tangan yang bekerja dalam diam, menjaga agar para aktivis tetap bisa berkumpul, berdiskusi dan mempertahankan semangat perjuangan.