Teologi Hati Jalan Reflektif Menuju Penyatuan GMIH. Oleh: Memo

Photo Author
Johan Rivaldo, Gertakberita.com
- Selasa, 21 Juli 2026 | 13:14 WIB

Pada akhirnya, teologi hati mengingatkan bahwa gereja tidak dibangun oleh kemenangan argumentasi, melainkan oleh kemenangan kasih. Jika hati menjadi pusat pengambilan keputusan, maka penyatuan GMIH tidak hanya menjadi keberhasilan organisasi, tetapi juga menjadi kesaksian Injil bagi masyarakat Maluku Utara khususnya Halmahera, bahwa kasih Allah sanggup mengalahkan perpecahan.

Hati yang dipenuhi kasih Kristus akan selalu memilih persaudaraan di atas permusuhan, dialog di atas prasangka, dan pengampunan di atas dendam. Dari hati yang demikianlah lahir gereja yang utuh, damai, dan menjadi saksi Kristus di tengah dunia, dan Syalom Allah benar-benar dapat diwujudnyatakan didalam dunia ini.

Catatan Kaki
Walter Brueggemann, Theology of the Old Testament (Minneapolis: Fortress Press, 1997), hlm. 375–380.

Gerhard Kittel (Ed.), Theological Dictionary of the New Testament, Vol. III (Grand Rapids: Eerdmans, 1965), hlm. 605–613.

A.A. Yewangoe, Theologia Crucis di Asia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009).

John Calvin, Institutes of the Christian Religion, I.xi.8.
Augustine, Confessions, Book I.

Miroslav Volf, Exclusion and Embrace (Nashville: Abingdon Press, 1996).

Alkitab Terjemahan Baru: Amsal 4:23; Matius 15:18–19; Yehezkiel 36:26.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Johan Rivaldo

Rekomendasi

Terkini

X