GERTAK.ID, INTAN JAYA - Mahasiswa Intan Jaya Se-Indonesia mendesak dilakukannya investigasi independen atas dugaan tewasnya dua warga sipil dalam operasi militer di Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Desakan tersebut disampaikan melalui siaran pers yang diterima redaksi pada Rabu (1/7/2026).
Dalam siaran pers itu, Mahasiswa Intan Jaya Se-Indonesia mengaku menerima laporan awal mengenai dugaan jatuhnya korban dari kalangan sipil dalam sebuah operasi militer yang disebut berlangsung tanpa adanya kontak tembak dengan kelompok bersenjata TPNPB-OPM. Mereka menegaskan bahwa informasi tersebut masih bersifat awal dan memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Berdasarkan kronologi yang disampaikan, peristiwa itu diduga terjadi pada Senin (29/6/2026) sekitar pukul 10.15 WIT di sekitar Pangkalan Mbamogo, Distrik Agisiga.
Dua warga sipil yang dilaporkan menjadi korban adalah Ev. Elianus Agimbau, seorang hamba Tuhan sekaligus gembala gereja di Kupia, dan Arnol Agimbau. Keduanya disebut sedang melakukan perjalanan dari Kampung Unabundoga menuju Sugapa untuk mengurus pencairan Dana Kampung.
Dalam perjalanan melalui jalur Kampung Tausiga menuju Kampung Mbamogo, keduanya diduga menjadi korban penembakan oleh aparat TNI. Selain itu, dalam siaran pers tersebut juga disebutkan adanya dugaan penggunaan drone dan granat dalam operasi tersebut.
Akibat insiden itu, kedua korban dilaporkan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Mahasiswa Intan Jaya Se-Indonesia menyatakan hingga saat ini pihaknya belum dapat melakukan investigasi langsung ke lokasi karena akses menuju tempat kejadian perkara dilaporkan masih dibatasi. Menurut mereka, kondisi tersebut menghambat proses pencarian fakta di lapangan.
Oleh sebab itu, mereka mendesak Pemerintah Kabupaten Intan Jaya segera membuka akses seluas-luasnya bagi tim investigasi independen untuk melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian.
Selain itu, mereka juga meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Republik Indonesia segera turun ke Kabupaten Intan Jaya guna memantau situasi secara langsung dan melakukan investigasi menyeluruh atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga sipil.
Dalam pernyataannya, Mahasiswa Intan Jaya Se-Indonesia berharap pemerintah, lembaga hak asasi manusia, organisasi masyarakat sipil, media massa, serta seluruh masyarakat Indonesia memberikan perhatian terhadap peristiwa tersebut agar fakta dapat diungkap melalui proses investigasi yang independen, transparan, dan akuntabel, demikian bunyi siaran pers tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan resmi dari pihak TNI maupun instansi berwenang lainnya terkait dugaan insiden tersebut. Redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak-pihak terkait guna memenuhi prinsip keberimbangan pemberitaan.
Artikel Terkait
Pemuda Puncak Soroti Lonjakan Pengungsi di Nabire, Desak Pemkab dan DPRD Segera Bertindak
Anggota Ikatan Pelajar Mahasiswa Wangbe dan Beoga Nabire Siapkan Fasilitas Musyawarah Besar ke-V
Aksi Pembagian Selebaran Mahasiswa Puncak di Nabire Dihentikan Polisi, Ini Penjelasannya
FKMI Nabire Desak Investigasi Ledakan di Gereja St. Paulus Mbamogo Intan Jaya