Penanganan Stunting Lebak Diperkuat, Capaian Kampung KB dan Peserta Aktif Tembus 89,4 Persen

Photo Author
Atippudin, Gertakberita.com
- Rabu, 6 Mei 2026 | 13:20 WIB
Foto : Ilustrasi Visual gambar Pemkab Lebak Andalkan Kampung KB dan Program Gizi Terpadu
Foto : Ilustrasi Visual gambar Pemkab Lebak Andalkan Kampung KB dan Program Gizi Terpadu

GERTAK.ID, Lebak - Upaya penanganan stunting di Kabupaten Lebak menunjukkan tren positif. Di tengah tantangan geografis yang kompleks, pemerintah daerah mengandalkan strategi berbasis kolaborasi dan program terintegrasi untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia.

Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah memaparkan langkah strategis dan capaian Pemerintah Kabupaten Lebak dalam penanganan stunting serta penguatan pembangunan sumber daya manusia. Paparan tersebut disampaikan saat kunjungan kerja Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, di Kabupaten Lebak, Banten, Kamis (30/4/2026) lalu.

Dalam kesempatan itu, Amir menegaskan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci menghadapi tantangan geografis Lebak yang luas dan berbukit.

Ia menyebutkan, wilayah Lebak mencakup sekitar 34 persen dari total Provinsi Banten sehingga membutuhkan pendekatan khusus dalam pelayanan pembangunan.

Selanjutnya, Amir menyoroti perkembangan Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) sebagai salah satu indikator capaian. Dari total 340 desa dan lima kelurahan, sebanyak 188 Kampung KB telah masuk kategori berkelanjutan.

“Salah satu percontohan terbaik adalah Desa Cirende, Kecamatan Cilograng, yang meraih juara tiga tingkat nasional untuk Kampung KB,” ujar Amir.

Ia menjelaskan, inovasi Desa Cirende terletak pada pemanfaatan pekarangan sebagai sarana edukasi nutrisi keluarga. Praktik tersebut bahkan masuk dalam 16 profil pendampingan keluarga berisiko stunting yang dibukukan secara nasional.

Terkait stunting, Amir mengakui adanya perbedaan data antar sumber, namun secara umum menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Lebak tercatat sebesar 32,4 persen.

Sementara itu, data elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) menunjukkan penurunan angka stunting dari 4,47 persen pada 2024 menjadi 4,36 persen pada 2025.

Di sisi lain, partisipasi masyarakat dalam program Keluarga Berencana (KB) tergolong tinggi. Sebanyak 146.079 akseptor atau 89,4 persen tercatat sebagai peserta KB aktif.

“Kami juga berhasil menekan unmet need atau kebutuhan KB yang tidak terpenuhi hingga 3,28 persen, di bawah target nasional,” jelasnya.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Lebak turut mengakselerasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari total kuota 265 unit, sebanyak 193 unit telah dibangun, termasuk di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Khusus bagi masyarakat adat Baduy, Pemkab Lebak mengusulkan inovasi SPPG Leuit di Ciboleger dan Cijahe. Program ini dirancang untuk memastikan distribusi makanan bergizi tetap berjalan tanpa bertentangan dengan nilai dan adat istiadat setempat.

Lebih lanjut, Amir menyoroti keterkaitan antara stunting dan kemiskinan ekstrem, terutama di wilayah sekitar taman nasional dan kawasan perkebunan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Atippudin

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X