Heboh Razia Rambut di SMKN 2 Garut, 7–8 Siswi Minta Pendampingan Hukum

Photo Author
Atippudin, Gertakberita.com
- Rabu, 6 Mei 2026 | 10:12 WIB
Menyoroti kasus dugaan razia rambut secara paksa terhadap belasan siswi oleh oknum Guru BK di SMK Garut, Jawa Barat. (Instagram.com/@sekitargarut)
Menyoroti kasus dugaan razia rambut secara paksa terhadap belasan siswi oleh oknum Guru BK di SMK Garut, Jawa Barat. (Instagram.com/@sekitargarut)

GERTAK.ID, GARUT - Video yang memperlihatkan dugaan razia rambut secara berlebihan terhadap siswi di SMK Negeri 2 Garut, Jawa Barat, viral di media sosial. Peristiwa tersebut diduga melibatkan oknum guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang memotong rambut sejumlah siswi.

Informasi ini mencuat setelah unggahan akun Instagram @sekitargarut pada Selasa (5/5/2026) menampilkan sejumlah siswi yang tampak histeris usai rambut mereka dipotong. Dalam video tersebut, para siswi terlihat menangis karena rambut yang telah dirawat dipotong tanpa persetujuan.

"Guru seharusnya mendidik dan memberi contoh perilaku yang baik," ujar salah seorang siswi.

Berdasarkan keterangan di lapangan, peristiwa tersebut terjadi setelah para siswi mengikuti pelajaran olahraga. Saat kembali ke kelas, mereka diduga langsung dirazia oleh oknum guru yang membawa gunting.

Tindakan itu disebut dilakukan karena adanya dugaan pelanggaran aturan sekolah, yakni rambut siswa yang diwarnai. Namun, cara penindakan tersebut menuai kritik dari warganet, terlebih karena sebagian korban merupakan siswi berhijab.

Seiring berkembangnya kasus, sejumlah korban dilaporkan meminta pendampingan hukum. Tercatat sekitar 7 hingga 8 siswi telah mengajukan pendampingan melalui BEM STAINUS Garut bersama pendamping hukum siswa, Asep Muhidin, SH., MH.

"Jumlah siswa yang meminta pendampingan ada sekitar 7 sampai 8 orang," kata Asep dalam pernyataannya di Garut, Selasa (5/5/2026).

"Mereka datang ke kampus STAINUS melalui BEM untuk meminta bantuan, lalu kami diminta mendampingi secara hukum," bebernya.

Asep menambahkan, jumlah korban yang diduga mengalami pemotongan rambut secara paksa mencapai belasan orang, meskipun yang saat ini didampingi baru sebagian.

Ia juga menjelaskan kronologi kejadian yang terjadi di lingkungan sekolah tersebut.

"Setelah olahraga, para siswi masuk kelas dengan kerudung, lalu tiba-tiba guru datang membawa gunting dan langsung melakukan razia," terangnya.

"Yang disayangkan, siswi yang berhijab diminta membuka kerudungnya, lalu rambutnya diperiksa dan digunting," imbuh Asep.

Menurutnya, tindakan tersebut tidak patut dicontoh dan dinilai tidak etis.

"Ini tidak etis. Siswi memakai hijab, sehingga kondisi rambutnya tidak terlihat. Rambut bagi perempuan adalah mahkota," sebut Asep.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Atippudin

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X