Keterlambatan ini disebut meluas hingga ke stasiun lain seperti Cirebon dan Tegal, menandakan gangguan sistemik, bukan sekadar insiden biasa.
Pihak stasiun menyatakan gangguan sudah terjadi sejak Senin malam. Namun hingga kini, penanganan dinilai lambat. Informasi yang diberikan sebatas pengumuman berulang tanpa solusi konkret di lapangan.
Tak hanya delay, sejumlah perjalanan bahkan dibatalkan. Penumpang diminta refund atau ganti rute—opsi yang bagi banyak orang justru menambah kerumitan di tengah situasi genting.
Meski sebagian mencoba memahami, fakta di lapangan menunjukkan hal berbeda: penumpang dibiarkan menunggu dalam ketidakpastian, tanpa kejelasan waktu, tanpa jaminan kepastian.
Insiden ini kembali menyoroti lemahnya manajemen krisis dan komunikasi layanan publik. Ketika gangguan terjadi, yang paling terdampak tetap satu: penumpang.