Truk Galian C Diduga Picu Rumah Warga Retak di Kedungwuni, Warga Tuntut Ganti Rugi.

Photo Author
Redaksi Gertak, Gertakberita.com
- Jumat, 17 April 2026 | 06:22 WIB


Pekalongan-gertak.id Ii Aktivitas truk bermuatan material galian C diduga menjadi penyebab kerusakan sejumlah rumah warga di Kelurahan Kedungwuni Barat, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Getaran kuat yang ditimbulkan saat kendaraan berat melintas disebut-sebut memicu retakan hingga penurunan struktur bangunan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Bambang Suroso, pada Kamis (16/4) warga setempat yang rumahnya berada di sebelah timur jalan, tepatnya di sekitar tikungan dekat BRI Kedungwuni bagian selatan. Ia menjelaskan, kondisi jalan di depan rumahnya terdapat tambalan aspal yang tidak rata atau bergelombang.

“Di situ ada jembatan, lalu ada tambalan aspal yang bergelombang, kalau truk berat lewat, apalagi yang bawa muatan batu blondos, rumah langsung bergetar seperti gempa,” ujarnya.

Menurut Bambang, getaran tersebut terjadi hampir setiap hari seiring tingginya intensitas kendaraan berat yang melintas sejak pagi. Dampaknya, dinding rumah miliknya mulai mengalami retak-retak atau merekah. Kondisi serupa juga dialami oleh sejumlah tetangganya.

“Rumah saya retak, tetangga juga sama. Bahkan yang di seberang sana juga ikut terdampak,” katanya.

Ia menduga, truk-truk tersebut berasal dari aktivitas galian C di wilayah Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, khususnya di sekitar Kali Welo. Beban muatan yang berat ditambah kondisi jalan yang tidak rata dinilai memperbesar efek getaran.

“Karena bebannya berat, setiap lewat langsung terasa. Apalagi jalannya bergelombang, jadi makin kuat getarannya,” tambahnya.

Dari pendataan sementara, terdapat beberapa rumah yang terdampak, dengan tiga rumah di antaranya mengalami kerusakan cukup serius. Salah satu bangunan bahkan dilaporkan dalam kondisi mengkhawatirkan karena mulai miring dan mengalami ambles.

“Yang dijadikan bengkel itu kondisinya sudah rawan. Tanahnya agak labil, rumahnya miring dan ada bagian yang mulai turun. Itu berbahaya,” ungkap Bambang.

Kerusakan tidak hanya terlihat pada dinding yang retak, tetapi juga pada struktur bangunan yang perlahan mengalami penurunan akibat getaran terus-menerus.

“Kalau dibiarkan, retakan bisa makin besar. Tembok jadi tidak kuat,” jelasnya.

Terkait jumlah kendaraan yang melintas, Bambang mengaku tidak mengetahui angka pasti. Namun, ia memastikan aktivitas tersebut cukup padat setiap harinya.

“Jumlahnya tidak tahu pasti, tapi jelas banyak. Dari pagi sudah mulai lewat,” katanya.

Atas kondisi ini, Bambang mewakili warga terdampak berharap adanya tanggung jawab dari pihak terkait, baik pelaku usaha galian C maupun instansi yang berwenang.

“Saya mohon ada solusi. Bagaimana caranya rumah kami bisa diperbaiki. Apakah ada kompensasi atau mekanisme lain, yang penting ada tanggung jawab dari pihak yang menyebabkan dampak ini,” tegasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Yulit MW

Rekomendasi

Terkini

X