Lebak, Gertak.id - Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Tambak 1, Desa Tambak, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, menjadi perhatian setelah beredarnya foto menu makanan yang diberikan kepada siswa kelas 2 selama satu minggu.
Menu yang terlihat dinilai sederhana dan kurang bervariasi sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kecukupan gizi bagi para siswa. Senin (16/3/2026).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, menu yang diberikan kepada siswa terdiri dari roti, susu kemasan, buah jeruk, anggur, serta makanan ringan dalam kemasan plastik. Menu tersebut disebut diberikan secara berulang selama beberapa hari, tanpa variasi yang signifikan.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran dari sejumlah pihak, terutama terkait keseimbangan nutrisi bagi siswa sekolah dasar yang sedang berada pada masa pertumbuhan. Selain itu, muncul pula dugaan adanya pengurangan bahan makanan di dapur penyedia program MBG.
Untuk mengklarifikasi hal tersebut, awak media menghubungi Kepala SPPG. Dalam pesan singkat yang diterima redaksi, Eli menjelaskan bahwa dirinya tidak secara langsung menangani penyusunan menu makanan.
“Saya tidak terlalu memperhatikan secara langsung menu-menu tersebut karena sudah ada bagian yang menangani. Namun, apabila terjadi kekeliruan dari tim relawan, tentu pada akhirnya tetap menjadi tanggung jawab saya. Sebelumnya hal-hal seperti ini biasanya disampaikan terlebih dahulu kepada saya melalui Humas."ungkapnya
Pada prinsipnya saya lebih pada kebijakan, sedangkan untuk teknis kami bersama tim relawan masih dalam proses belajar dan penyesuaian serta akan melakukan evaluasi. Terima kasih atas masukannya,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penyusunan menu berada pada tim teknis yang mengelola dapur MBG. Meski demikian, pengawasan terhadap kualitas makanan yang diberikan kepada siswa dinilai tetap perlu diperkuat.
Beberapa pihak menilai menu yang sama dalam jangka waktu satu minggu berpotensi tidak memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang. Variasi makanan dinilai penting agar asupan nutrisi siswa dapat terpenuhi secara optimal.
Sejumlah pengamat pendidikan juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap pelaksanaan program tersebut. Apabila ditemukan kekeliruan dalam penyediaan makanan, pengelola dapur berpotensi mendapatkan teguran hingga sanksi administratif sesuai ketentuan yang berlaku.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak SPPG menyatakan akan melakukan evaluasi teknis bersama tim relawan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan lebih baik. Evaluasi tersebut diharapkan dapat memperbaiki variasi menu serta menjaga kualitas gizi yang diberikan kepada para siswa.
Program MBG sendiri merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan pemenuhan gizi anak sekolah. Karena itu, pelaksanaannya membutuhkan pengawasan yang konsisten agar tujuan program benar-benar tercapai dan memberikan manfaat bagi siswa.
Artikel Terkait
SPPG Cahaya Ngrayun Ponorogo Akui Teledor Usai Viral Temuan Belatung di Menu MBG
Pengelola Dapur MBG di Purworejo Protes Juknis Mendadak dari Badan Gizi Nasional
Viral Curhatan Guru SD di Palembang soal Lambatnya Pembagian Paket MBG, Ungkap Ada Siswa yang Pingsan Akibat Lama Nunggu
Viral Harga Roti MBG Rp3.500 di Cianjur, Warganet Pertanyakan Selisih dengan Harga Pasaran