Sumba Barat Daya, Gertak.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa perubahan nyata bagi siswa difabel di SLB Negeri Laura, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.
Anak-anak grahita, khususnya Down Syndrome, yang sebelumnya kerap mengalami perubahan suasana hati, kini lebih tenang dan mampu mengikuti pelajaran hingga selesai.
Kepala SLB Negeri Laura, Maria Dolorosa Mada, mengungkapkan kondisi tersebut saat ditemui di sekolah yang berlokasi di Kecamatan Laura.
“Kadang-kadang mereka ini kan mood-nya suka berubah-ubah,” ujarnya. “Kalau sebelum terima MBG itu, baru jam-jam tertentu mood-nya sudah berubah,” sambung Maria.
Sekolah ini memiliki 68 siswa, meski yang tercatat dalam Dapodik baru 59 orang. Sejumlah siswa masih terkendala administrasi, mulai dari persoalan kartu keluarga hingga data yang tercatat di sekolah lain.
Sejak 2025, SLB Negeri Laura juga membuka kelas jauh di Kodi Utara guna melayani tiga desa yang berjarak cukup jauh dari sekolah induk.
SLB Negeri Laura melayani berbagai jenis ketunaan, seperti tuna rungu wicara, tuna daksa, autis, grahita termasuk Down Syndrome, lambat belajar, serta membuka kelas tuna netra meski belum memiliki peserta didik. Sekitar 40 siswa tinggal di asrama, walaupun jumlahnya tidak selalu penuh setiap hari.
Sebagian besar siswa berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Maria menyebut hampir 90 persen orang tua hidup dalam keterbatasan. Bahkan ada orang tua yang harus menjual tiga kilogram jagung demi ongkos ojek untuk mengantar anak kembali ke sekolah. Guru juga kerap membantu menjemput dan mengantar siswa, sehingga sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga ruang pengasuhan.
Asrama disediakan tanpa biaya, namun kebutuhan harian tetap menjadi tantangan. Konsumsi, pakaian, perlengkapan mandi, hingga peralatan makan dipenuhi dari dana terbatas dan bantuan donatur yang tidak rutin.
“Ya mereka makan sehari tiga kali, tetapi lauk yang seadanya dan porsinya terbatas,” kata Maria.
Keterbatasan asupan tersebut berdampak pada energi dan kestabilan emosi siswa, terutama anak Down Syndrome. Kondisi fisik yang kurang prima membuat mereka lebih mudah gelisah sebelum jam pelajaran berakhir. Namun dalam tiga minggu terakhir, sejak MBG berjalan, perubahan mulai terlihat.
“Setelah menerima MBG mereka lebih bersemangat,” ujar Maria. “Mereka lebih bisa bertahan ada dalam kelas.” Ia juga menambahkan, “Setelah ada MBG ini mukanya cerah sekali anak-anak saya.”
Dampak program ini turut dirasakan siswa yang tinggal di asrama. Dengan makan siang terpenuhi di sekolah, beban konsumsi harian menjadi lebih ringan.
“Makannya itu boleh dibilang kalau di asrama mereka akhirnya cuma makannya malam. Karena memang sangat terbantu dengan MBG ini,” katanya.
Artikel Terkait
Seberangi Sungai, SPPG di Pedalaman NTT Bertaruh Nyawa Antar MBG, Harap Jembatan Dibangun
Berkat Dapur MBG, Pemuda Palmerah Punya Aktivitas Budidaya Ikan Topang Ketahanan Pangan
MBG Angkat Nasib Petani NTT, Penghasilan Naik Tiga Kali Lipat
Dari Balik Dapur MBG, Eks Narapidana Menata Ulang Hidupnya