Ramadan 2026 di Tenda Pengungsian, Warga Aceh Tamiang Minta Doa dan Dapur Umum

Photo Author
Atippudin, Gertakberita.com
- Selasa, 17 Februari 2026 | 21:10 WIB
Cerita warga Aceh Tamiang menyambut puasa Ramadan di tahun 2026. (Internet/linggg.pdf)
Cerita warga Aceh Tamiang menyambut puasa Ramadan di tahun 2026. (Internet/linggg.pdf)

Aceh Tamiang, Gertak.id - Ramadan 2026 menjadi momen yang berbeda bagi korban banjir dan tanah longsor di Aceh Tamiang. Tahun ini, sejumlah warga menjalankan ibadah puasa di tenda pengungsian setelah rumah mereka rusak diterjang banjir pada akhir November 2025.

Penetapan awal Ramadan pun telah diumumkan. Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, sementara pemerintah melalui sidang isbat menetapkan Kamis, 19 Februari 2026.

Di tengah situasi tersebut, curahan hati warga terkait pelaksanaan puasa pascabencana beredar melalui media sosial.

Salah satu relawan melalui akun Instagram @linggg.pdf membagikan video pada Selasa, 17 Februari 2026, yang memperlihatkan seorang ibu di Aceh Tamiang menyampaikan kegelisahannya saat hendak mengenalkan puasa kepada anak-anaknya.

Menurutnya, menjalani Ramadan di tenda menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi anak-anak.

“Berat kali Ramadan kali ini, dengan kondisi mau ngajar anak bulan Ramadan tapi dengan kondisi rumah nggak ada, di tenda yang panas, yang terik,” ucap ibu tersebut.

“Dari kecil kita ajarkan dia untuk berpuasa kalau bulan Ramadan itu wajib, ngelatih,” lanjutnya.

Dalam video berdurasi 37 detik itu, ia juga memohon doa agar dapat menjalani Ramadan dengan lancar di tengah keterbatasan.

“Tapi ya begini, Insya Allah lah. Minta doa dari semua yang ada, yang melihat ini. Kami minta doa untuk berikan kami kesabaran dan ketabahan. Kesehatan terutama untuk menyambut bulan Ramadan,” paparnya.

Sementara itu, melalui unggahan akun Instagram @adjie.apk pada Jumat, 13 Februari 2026, warga lainnya menyampaikan harapan agar dapur umum tetap tersedia selama Ramadan.

“Kita mengharapkan dapur umum. Kalau ingat itu, kami nggak sanggup,” ujarnya sambil terisak nangis.

Seiring kembalinya sebagian warga ke rumah atau tempat kerabat serta relawan yang mulai meninggalkan Aceh, sejumlah dapur umum dilaporkan berhenti beroperasi.

Kondisi tersebut memengaruhi kesiapan warga menyambut sahur dan berbuka. Tanpa fasilitas penyimpanan seperti kulkas, mereka tidak dapat menyiapkan bahan makanan sejak malam hari dan harus segera memasak agar sayur maupun ikan tidak cepat membusuk.

Ramadan tahun ini pun dijalani dengan keterbatasan, di tengah harapan akan kesabaran, ketabahan, serta dukungan dari berbagai pihak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Faiz Afianda

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X