Gertak.id | Indramayu – Rencana aksi unjuk rasa Forum Peduli Indramayu (FPI) yang sedianya digelar Kamis pagi (12/2) ke Pendopo Indramayu resmi batal. Namun bukan simpati yang didapat, melainkan gelombang cibiran yang makin liar di media sosial.
Surat pembatalan aksi yang beredar sejak Rabu malam langsung jadi santapan empuk warganet. Sindiran datang bertubi-tubi, bahkan cenderung meragukan soliditas internal FPI.
“Tayamum lagi,” tulis akun Gunawan di X, menyindir keras aksi yang kembali urung digelar.
“Di surat pembatalan nggak ada jadwal ulang. Tanggal 33 aja sekalian!” sindir akun Sarjo, mempertanyakan keseriusan gerakan tersebut.
Tak hanya di media sosial, grup WhatsApp jurnalis pun ikut memanas. Satire berbahasa Jawa beredar luas, menyiratkan dugaan bahwa momentum aksi “sudah diborong” sebelum sempat digelar.
Yang lebih bikin publik tercengang, Ahmad Nur Irsyad—nama yang tercatat sebagai Koordinator Lapangan (Korlap) dalam surat pemberitahuan ke Polres Indramayu—justru mengaku tidak tahu soal pembatalan.
“Emang demo FPI gagal? Saya nggak diberi tahu kok,” ujarnya.
Pernyataan itu sontak memicu tanda tanya besar. Jika korlap saja tak mengetahui pembatalan, siapa yang sebenarnya mengendalikan keputusan?
Sebelumnya, Irsyad juga sempat menyinggung soal adanya “penumpang gelap” dan penyimpangan dari kesepakatan awal. Isyarat itu kini ditafsirkan publik sebagai indikasi adanya friksi internal.
Di sisi lain, Koordinator Umum FPI, Masdi, menyatakan penundaan aksi dilakukan demi menghormati pelantikan Kuwu terpilih di Pendopo Indramayu.
“Atas berbagai pertimbangan, kami mengundurkan jadwal demo sebagai bentuk kepedulian terhadap rakyat yang sedang euforia,” ujarnya.
Namun alasan itu tak sepenuhnya memadamkan kritik. Sebab sebelumnya FPI mengklaim seluruh persiapan telah matang—spanduk siap, banner siap, massa siap turun.
Kini publik melihat kontras yang mencolok: persiapan disebut matang, tapi aksi tak jadi jalan. Tuntutan lantang agar Staf Khusus (Stafsus) Bupati Indramayu, Salman Al-Farisi dicopot, namun eksekusi tertunda.
Perwakilan korlap Asmawi Day dan Bang Iful tetap bersikukuh aksi hanya mundur sementara.
“Kami tetap satu tujuan, copot Salman. Sudah bikin gaduh warga Indramayu,” tegas mereka.
Meski demikian, persepsi publik sudah terlanjur terbentuk. Di ruang digital, narasi berkembang lebih cepat dari klarifikasi.
Artikel Terkait
Ramai di Medsos, Peran Wakil Bupati Indramayu Dinilai “Dilumpuhkan”
Polsek Indramayu Tanggap Aduan Warga Terkait Remaja Ngamuk Acungkan Sajam
H. Ruswa Ucapkan Selamat atas Pelantikan 138 Kuwu Hasil Pilwu Serentak 2025 di Indramayu