“Mie mentah yang dimakan, tapi happy, Alhamdulillah. Ini Aceh Tamiang di hari ke-4,” imbuhnya.
Hari ke-5, Berebut Roti
Memasuki hari kelima, secercah harapan muncul. Seorang pedagang roti datang ke lokasi dan langsung diserbu para pengungsi yang sudah berhari-hari kelaparan.
“Dengan stok makanan nggak ada, semua pengungsi dari GOR dan tempat lain ke SPBU, nyerbu beli roti,” tulisnya.
“Alhamdulillah, situasi kayak gini Allah kirimkan penjual roti ke yang terjebak banjir di tempat kami,” tambahnya.
Kronologi Air Naik hingga Warga Bertahan di Atas Mobil
Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa pada hari pertama banjir, air mulai naik sejak pagi. Sekitar pukul 09.00 WIB, air masuk ke area SPBU. Menjelang sore, sekitar pukul 17.00 WIB, air mulai masuk ke dalam kendaraan.
Setelah waktu Maghrib, ketinggian air terus bertambah hingga melampaui bak mobil, memaksa warga naik dan bertahan di atas body kendaraan demi menyelamatkan diri.
Kisah ini menjadi pengingat betapa dahsyatnya dampak banjir Aceh Tamiang, sekaligus potret ketangguhan warga yang berjuang bertahan hidup di tengah keterbatasan ekstrem.