Gertak.id | Sintang, Kalimantan Barat - Pertumbuhan aktivitas dan jumlah kendaraan di Kota Sintang, Kalimantan Barat, kini mulai menimbulkan persoalan serius. Kepadatan lalu lintas di sejumlah titik vital, khususnya kawasan Tugu Jam dan Jembatan Melawi, semakin sering dikeluhkan masyarakat karena memicu kemacetan parah.
Lonjakan volume kendaraan dinilai tidak sebanding dengan kapasitas jalan yang tersedia. Kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan jalur utama yang menjadi tumpuan mobilitas warga, baik untuk aktivitas kerja, pendidikan, maupun distribusi barang dan jasa.
Setidaknya ada dua faktor utama yang memicu kemacetan di Kota Sintang.
Pertama, pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Kedua, ketergantungan arus lalu lintas pada jalur-jalur utama tanpa didukung jalan alternatif yang memadai.
Kemacetan kerap memuncak pada situasi tertentu. Salah satunya ketika terjadi kendaraan mogok di atas Jembatan Melawi. Sebagai jalur penghubung utama antar kabupaten, satu kendaraan yang berhenti di jembatan tersebut dapat menyebabkan antrean panjang hingga mengular ke pusat kota.
Selain itu, pelaksanaan agenda besar daerah juga menjadi pemicu kemacetan. Event tahunan seperti Pekan Gawai Dayak Kabupaten Sintang terbukti selalu menyedot antusiasme ribuan warga. Meski berdampak positif bagi perekonomian lokal, minimnya jalur alternatif membuat arus lalu lintas kerap lumpuh total saat kegiatan berlangsung.
Bagi pengguna jalan, kemacetan ini bukan sekadar persoalan keterlambatan. Terganggunya mobilitas berdampak langsung terhadap produktivitas dan aktivitas sehari-hari masyarakat.
“Kami yang seharusnya bisa sampai tujuan dengan cepat untuk bekerja atau urusan mendesak jadi terhambat. Waktu habis di jalan karena tidak ada pilihan jalur lain,” ujar salah seorang warga, Rabu (7/1/2026).
Melihat kondisi yang kian kronis, masyarakat berharap adanya langkah nyata dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, maupun Pemerintah Daerah. Pembangunan jalur alternatif serta penambahan infrastruktur jembatan baru dinilai sebagai solusi jangka panjang yang sudah tidak bisa ditunda.
Upaya strategis tersebut dinilai penting agar perkembangan Kota Sintang tidak hanya terlihat dari pertumbuhan populasi dan aktivitas ekonomi, tetapi juga ditopang oleh infrastruktur yang memadai demi kenyamanan dan keselamatan seluruh pengguna jalan.