SAMPANG, Gertak.id — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sebagai upaya menyelamatkan generasi bangsa dari krisis gizi, justru ternodai secara memalukan di Kabupaten Sampang. Alih-alih nutrisi, siswa Madrasah Ibtidaiyah menerima makanan yang diduga tercemar ulat—sebuah ironi yang mencederai akal sehat, nurani, dan moral pengelola.
Peristiwa ini mencuat setelah sebuah video viral beredar pada Senin (29/12/2025), memperlihatkan menu MBG yang diterima siswa MI Irsyadul Mubtadiin, Desa Labeng Tangkor, Kecamatan Sreseh kabupaten Sampang Madura Jawa Timur, diduga berisi ulat. Video tersebut memantik amarah publik, sebab program negara yang seharusnya suci dari kelalaian justru berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan anak-anak.
Samsul, wali murid, mengungkapkan kegelisahan yang tak bisa disembunyikan. Ia mengaku langsung melarang anaknya menyentuh makanan tersebut. “Ini bukan soal enak atau tidak. Ini soal keselamatan. Ulat ada di makanan anak-anak. Jangan langsung dimakan. Ini menjijikkan dan berbahaya,” ujarnya geram.
Lebih dari sekadar kelalaian teknis, kasus ini dinilai mencerminkan keruntuhan moral pihak-pihak yang dipercaya menjalankan program negara. Bantuan yang dibiayai uang rakyat dan membawa nama Presiden justru disajikan tanpa kehati-hatian, seolah nyawa anak sekolah bisa ditukar dengan kelengahan dapur. “Program ini mulia. Tapi kalau dikelola sembrono, itu bukan lagi bantuan—itu pengkhianatan,” tegas Samsul.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sampang, Feri, belum memberikan tanggapan meski telah dikonfirmasi melalui WhatsApp. Sikap bungkam ini memperkuat kekecewaan publik dan menimbulkan pertanyaan serius soal pengawasan.
Nada kecaman yang lebih keras datang dari Abdullah, anggota LSM PEKAT-IB DPD Kabupaten Sampang. Ia menilai kejadian ini bukan sekadar kecolongan, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap amanat Presiden.
“Presiden Prabowo meluncurkan MBG untuk menyelamatkan anak-anak Indonesia, bukan untuk menyuapi mereka makanan berulat. Kalau ada dapur yang lalai, itu sama saja mencoreng nama Presiden,” kata Abdullah dengan nada tajam.
Menurut Abdullah, temuan ulat menunjukkan kegagalan total standar kebersihan dan kontrol kualitas. Ia mendesak Presiden turun tangan langsung. “Yayasan DWS harus ditutup sementara dan diaudit total. Ini menyangkut moral, tanggung jawab, dan nyawa anak-anak. Jangan biarkan program mulia Presiden dirusak oleh oknum tak bermoral,” tegasnya.
Ia menambahkan, apabila kejadian ini dibiarkan, maka pesan yang sampai ke publik adalah negara abai terhadap keselamatan generasi penerus. “Kalau makanan berulat saja lolos ke piring anak sekolah, di mana hati nurani pengelolanya? Ini bukan sekadar lalai, ini alarm bahaya nasional,” lanjut Abdullah.
Di akhir pernyataannya, Abdullah memastikan akan mengirimkan surat resmi kepada Presiden Prabowo Subianto agar kejadian serupa tidak terulang. “Saya akan laporkan langsung ke Presiden. Ini harus jadi peringatan keras bagi seluruh dapur MBG di Indonesia: jangan khianati amanat negara,” pungkasnya.
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi semua pihak. Makanan bergizi seharusnya menyelamatkan masa depan, bukan mempertaruhkan nyawa anak bangsa. Ketika ulat blatung hadir di piring siswa, yang busuk bukan hanya makanan tetapi juga tanggung jawab.