“Harta saya habis, perkebunan saya habis. Tanpa bantuan kawan-kawan, saya tidak tahu harus makan apa,” tuturnya.
Meski berada dalam kondisi sulit, pria tersebut mengaku tidak menuntut bantuan berlebihan. Harapannya sederhana, yakni bisa mendapatkan makanan untuk bertahan hidup.
“Jadi tolong bantu kami, kami tidak mengharapkan macam-macam. Bisa makan saja, itu sudah cukup,” ujarnya.
Kisah warga Desa Juar ini mencerminkan kondisi sebagian korban banjir bandang di Aceh Tamiang yang hingga kini masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Bencana tersebut tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memutus sumber penghidupan masyarakat, terutama para petani dan pekebun.
Warga berharap bantuan dapat segera merata hingga ke desa-desa pedalaman agar penderitaan pascabanjir tidak semakin berkepanjangan.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik bencana alam, terdapat jeritan kemanusiaan yang membutuhkan perhatian dan kepedulian bersama, agar para korban dapat kembali bangkit dan menjalani kehidupan dengan layak.