Tangis Warga Desa Juar Aceh Tamiang Usai Banjir Bandang, Berhari-hari Kesulitan Cari Makan

Photo Author
Redaksi Gertak, Gertakberita.com
- Rabu, 17 Desember 2025 | 07:59 WIB
Menyoroti cerita pilu seorang pria di desa pedalaman Aceh Tamiang yang menjadi korban bencana banjir bandang. (TikTok.com/@gracefie)
Menyoroti cerita pilu seorang pria di desa pedalaman Aceh Tamiang yang menjadi korban bencana banjir bandang. (TikTok.com/@gracefie)

Gertak.id– Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan kondisi pilu warga di desa pedalaman Aceh Tamiang pascabanjir bandang. Dalam video tersebut, seorang pria lanjut usia menceritakan perjuangannya bertahan hidup setelah bencana besar melanda wilayahnya.

Aceh Tamiang diketahui menjadi salah satu daerah yang terdampak banjir bandang hebat pada akhir November 2025. Hingga kini, dampak bencana masih dirasakan oleh warga, terutama mereka yang tinggal di wilayah pedalaman dengan akses terbatas.

Pria dalam video tersebut merupakan warga Desa Juar, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang. Ia mengaku masih bertahan di desanya meski kondisi lingkungan sekitar telah rusak parah akibat terjangan banjir bandang.

Kisah tersebut diunggah melalui akun TikTok @gracefie pada Rabu, 17 Desember 2025. Dalam unggahan itu disebutkan bahwa warga setempat masih hidup dalam keterbatasan dan membutuhkan perhatian serta uluran tangan.

“Mereka masih bertahan dengan keterbatasan. Mohon perhatian dan uluran tangan,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.

Dengan suara lirih, pria tua itu menceritakan hari-hari sulit yang ia jalani pascabanjir. Ia mengaku kehidupan sehari-hari menjadi sangat berat, terutama dalam memenuhi kebutuhan makan.

Menurutnya, tanpa bantuan dari para relawan yang datang ke desa mereka, warga tidak tahu harus mengandalkan apa untuk bertahan hidup.

“Kalau kami tidak dibantu dengan kawan-kawan (relawan), kami tidak makan selama berhari-hari,” ungkap pria tersebut.

Ia juga menggambarkan kondisi desa yang masih sulit dijangkau. Jalanan dipenuhi lumpur, sementara akses komunikasi dan transportasi belum sepenuhnya pulih.

“Lihat jalanan yang dipenuhi lumpur, hancur hati saya mengingat kejadian ini,” katanya dengan nada sedih.

Pria tersebut mengaku pasrah dengan kondisi yang terjadi. Meski hatinya hancur melihat desanya rusak, ia merasa tidak punya pilihan selain menerima kenyataan.

“Tapi sekarang mau bilang apa lagi, semuanya sudah habis,” lanjutnya.

Selain rumah dan lingkungan, banjir bandang juga menghancurkan perkebunan warga yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama.

Ia menyebut, derasnya aliran air dari daerah hulu menyapu bersih kebun-kebun milik warga, meninggalkan kerugian besar yang sulit digantikan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Yuliarto Mugi Widodo

Rekomendasi

Terkini

X