SAMPANG, Gertak.id — Kasus pembacokan dan penembakan petugas SPBU 5469206 di Desa Tambaan, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, pada Senin (20/10/2025) lalu hingga kini masih belum terungkap.
Hingga saat ini, pihak kepolisian Polres Sampang masih memberikan jawaban yang sama, yakni kasus masih dalam tahap pendalaman.
Pengacara kondang asal Surabaya, Cak Sholeh menilai belum tertangkapnya para pelaku menyiratkan keanehan dan spekulan liar terkait kinerja Polres Sampang.
Apakah upaya penangkapan para pelaku ini dilakukan secara serius? Ataukah Polres Sampang merasa gamang?
Cak Sholeh pun mengibaratkan Satreskrim Polres Sampang seperti serigala ompong yang tak tegas dalam menindak kasus tersebut.
"Mestinya polisi bergerak cepat, jangan terkesan melakukan pembiaran dan lamban. Ini menyangkut rasa keadilan dan keamanan masyarakat,” kritiknya, Sabtu (25/10/2025).
Dia mempertanyakan keseriusan polisi menangani kasus tersebut. Apakah berpihak kepada korban ataukah kongkalikong dengan terduga pelaku.
"Jika Polres Sampang berpihak kepada terduga pelaku, dimana letak hati nuraninya. Ini sudah menyangkut nyawa warga,” kritiknya.
Cak Sholeh pun mendesak Korps Bhayangkara untuk bertindak profesional dengan penegakan hukum secara transparan dan tanpa pandang bulu.
"Lambannya penanganan kasus ini menunjukkan lemahnya komitmen aparat penegak hukum dalam menuntaskan kasus kekerasan," tegas Cak Sholeh.
Kasus ini dinilai mencoreng citra penegakan hukum di wilayah Polres Sampang, serta menambah daftar panjang kasus kekerasan yang belum terselesaikan.
Sementara itu, Plh Kasi humas Polres Sampang AKP Eko Puji Waluyo mengatakan, sampai saat ini pelaku memang belum diamankan.
Kata Eko, kasus tersebut sampai saat ini masih diselidiki polisi. ”Saat ini masih dalam tahap pemeriksaan saksi-saksi,” tutur Eko.
Menurut Eko, jumlah saksi yang sudah diperiksa lebih dari tiga orang. Tapi, jika merujuk pada hasil pemeriksaan sementara, keterangan saksi belum mengerucut kepada terduga pelaku. Karena itu, polisi harus melakukan penyelidikan lebih lanjut. ”Intinya kami masih mendalaminya,” tandas Eko. (Moch)