Gereja GIDI Jemaat Bukit Zaitun Wanggar Makmur Nabire, 23 Tahun Berdiri Tanpa Sentuhan Bantuan

Photo Author
Prastio Pamungkas, Gertakberita.com
- Minggu, 28 September 2025 | 05:15 WIB

Nabire, Papua Tengah, Gertak.id

Sebuah kisah pilu datang dari Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Jemaat Bukit Zaitun, Klasis Wahyu Wanggar, yang terletak di Kampung Wanggar Makmur, Distrik Wanggar, Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Gereja sederhana yang dibangun sejak tahun 2002 ini, hingga kini 23 tahun kemudian tak pernah tersentuh bantuan dari pemerintah maupun para dermawan.

Bangunan yang berdiri kokoh karena iman itu, tetap dalam kondisi seadanya. Kursi, mimbar, bahkan peralatan ibadah yang dipakai, masih sama seperti saat pertama kali gereja tersebut berdiri dua dekade lalu. Tak ada penambahan, apalagi perbaikan. Hanya dinding-dinding yang menjadi saksi bisu doa dan pengharapan jemaat, agar suatu hari rumah Tuhan itu bisa lebih layak untuk menampung umat dalam beribadah.

“Sejak tahun 2002, semua yang ada di gereja ini masih sama. Kami hanya mengandalkan iuran kecil jemaat yang penghasilannya pun terbatas. Papan nama gereja pun masih kami tulis dengan tangan seadanya,” ungkap Datinus Enumbi, salah satu tokoh pemuda gereja, dengan mata berkaca-kaca.

-
Papan nama sederhana tulisan tangan menandakan kuatnya iman para jemaatnya yang beribadah dalam kesederhanaan

Tak hanya itu, keterbatasan dana juga membuat pagar gereja belum bisa dibangun hingga kini. Lingkungan rumah ibadah dibiarkan terbuka, tanpa pembatas yang layak, sehingga seringkali menimbulkan rasa waswas bagi jemaat saat beribadah maupun menjaga kerapian gereja.

Meski kondisi serba kekurangan, semangat jemaat untuk datang dan bersujud setiap minggu tak pernah pudar. Lantunan doa tetap berkumandang, walau bangunan tempat mereka memuji dan menyembah tidak pernah mendapat perhatian dari pihak manapun.

-
Halaman tanpa pagar, bukan tidak mau tapi kami belum mampu Ya Tuhan

Kini, harapan besar disampaikan umat GIDI Bukit Zaitun. Mereka mendambakan hadirnya kepedulian dari pemerintah, lembaga keagamaan, maupun para dermawan, agar rumah Tuhan ini dapat berdiri lebih layak. Sebab, bagi mereka, gereja bukan sekadar tempat beribadah, melainkan rumah harapan, tempat bersandar, dan sumber penguatan iman di tengah segala keterbatasan hidup.

Dalam kesederhanaan dan segala keterbatasan, jemaat Bukit Zaitun menunjukkan kesetiaan iman yang tak tergoyahkan. Meski tanpa kursi baru, tanpa pagar pembatas, dan tanpa sentuhan bantuan selama 23 tahun, mereka tetap beribadah dengan penuh sukacita. Sebuah cermin pengabdian dan keyakinan bahwa rumah Tuhan, betapapun sederhana, tetaplah pusat pengharapan dan cahaya bagi umat-Nya.

L.E.Nainggolan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Prastio Pamungkas

Rekomendasi

Terkini

X