Kasepuhan Cisungsang Gelar Seren Taun 2025, Perayaan Syukur Panen Raya dan Warisan Budaya Nusantara

Photo Author
Atippudin - BiroLebak, Gertakberita.com
- Senin, 22 September 2025 | 12:25 WIB

Lebak, Gertak.id – Kasepuhan Cisungsang yang berada di Kabupaten Lebak Banten kembali menggelar upacara adat Seren Taun, sebuah tradisi syukur atas panen raya yang menjadi bagian penting dari warisan budaya Indonesia. Tahun ini, Seren Taun berlangsung mulai 22 hingga 29 September 2025 dan telah masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Dengan mengusung tema “Ngawujudkeun Beubeungkeutan Nu Sajati”, rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi “Rasul Pare di Leuit” pada 22 September. Selanjutnya, acara berlanjut dengan Pantun/Bubuka (25 September), Balik Taun Rendangan (26 September), Ngareremokeun (27 September), puncak Seren Taun (28 September), dan ditutup dengan prosesi Panadaran pada 29 September.

Perayaan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Banten, Pemerintah Kabupaten Lebak, dan Kementerian Kebudayaan RI.

Sejumlah tokoh dijadwalkan akan hadir, di antaranya Gubernur Banten Andra Soni, Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiqi Jayabaya, serta Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang Abah Usep Suyatma, guna memberikan dukungan sekaligus apresiasi atas upaya pelestarian budaya.

Sementara itu dirangkum dari Berbagai Sumber ,Kasepuhan Cisungsang sendiri merupakan salah satu komunitas adat tertua di Kabupaten Lebak yang telah menjaga tradisi Sunda sejak era Kerajaan Pajajaran. Nama Cisungsang berasal dari kata “ci” (air) dan “sungsang” (berlawanan), yang secara harfiah berarti air yang kembali ke hulu. Menurut kepercayaan masyarakat, wilayah ini didirikan oleh keturunan Prabu Siliwangi, yakni Prabu Walangsungsang.

Struktur adatnya dipimpin oleh seorang Abah (ketua adat), yang diwariskan secara turun-temurun dari leluhur Mbah Rukman. Penentuan Abah dilakukan melalui wangsit atau petunjuk leluhur dalam mimpi, dan hanya anak laki-laki yang bisa meneruskan jabatan tersebut.

Kehidupan masyarakat Cisungsang sangat erat dengan alam dan pertanian. Mereka mengandalkan hasil sawah, memelihara hutan, serta tetap mempertahankan sistem bercocok tanam tradisional tanpa pupuk kimia. Leuit (lumbung padi) menjadi simbol penting, bukan sekadar tempat penyimpanan, tetapi juga lambang keberkahan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan adat.

Tradisi Seren Taun sendiri telah berlangsung lebih dari 700 tahun dan tetap menjadi momentum sakral untuk menyampaikan rasa syukur, menjaga harmoni dengan alam, serta memperkuat kebersamaan masyarakat adat.

Seren Taun tidak hanya menjadi pesta adat, tetapi juga simbol kearifan lokal, gotong royong, dan identitas budaya bangsa. Tradisi ini diharapkan mampu menarik wisatawan sekaligus memperkokoh posisi Lebak sebagai daerah yang kaya akan warisan budaya Nusantara.

 

(Sumber Latar Belakang Sejarah Kasepuhan Cisungsang : Kemenparekraf, Kemdikbud, BLA Kemenag Jakarta)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Atippudin - BiroLebak

Rekomendasi

Terkini

X