Hidupkan Warisan Budaya Kerinci, Mahasiswa ITB Ahmad Dahlan Bangkitkan Kembali Sanggar Seni Melati Lewat Program MBKM

Photo Author
Deni Putra, Gertakberita.com
- Sabtu, 26 Juli 2025 | 03:05 WIB

Kerinci, Jambi, Gertak.id– Dalam upaya merawat dan menghidupkan kembali budaya lokal di tengah arus modernisasi, seorang mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB-AD), Yosan Pelaudia, berhasil memberdayakan kembali Sanggar Seni Melati di Desa Kemantan Raya, Kecamatan Air Hangat Timur, Kabupaten Kerinci. Program ini dilaksanakan melalui skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digagas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Sanggar Seni Melati telah berdiri sejak 1987 dan menjadi wadah pelestarian seni tradisional Kerinci, seperti Sike Rebana dan pertunjukan musik daerah. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas sanggar mulai meredup akibat keterbatasan alat, minimnya dukungan pemerintah desa, serta kurangnya regenerasi seniman muda.

Melihat situasi ini, Yosan Pelaudia mengambil langkah nyata dengan menginisiasi program pemberdayaan berbasis kebutuhan lapangan. “Kami memulai dari observasi langsung, pelatihan generasi muda, digitalisasi media sosial, hingga pembentukan struktur organisasi dan menjalin kerja sama lintas sektor,” terang Yosan.

Berbagai capaian positif pun berhasil diraih dalam beberapa bulan pelaksanaan program. Sanggar kini memiliki akun media sosial aktif sebagai sarana promosi dan edukasi. Antusiasme pemuda desa meningkat, terlihat dari partisipasi mereka dalam latihan seni, bahkan terlibat dalam pengelolaan media sosial. Selain itu, peralatan musik tradisional yang rusak turut diperbaiki secara gotong royong oleh masyarakat.

Lebih dari itu, program ini juga sukses membuka akses kerja sama antara sanggar dan sekolah-sekolah sekitar, serta mempererat komunikasi dengan pemerintah desa. Sebagai puncak kegiatan, sebuah pertunjukan budaya mini digelar untuk menunjukkan eksistensi sanggar kepada masyarakat luas.

“Dulu kami latihan hanya untuk acara adat saja. Sekarang, banyak anak muda yang ikut, bahkan ada yang bantu mengelola media sosial sanggar,” ujar Sefni, salah satu pelatih senior di Sanggar Seni Melati.

Yosan mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam program MBKM tidak hanya memberi manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi pengalaman belajar yang sangat berarti bagi dirinya secara pribadi. “Saya belajar bahwa pelestarian budaya bukan sekadar seremonial, tapi sebuah kerja kolektif yang melibatkan semua pihak,” ungkapnya.

Program MBKM membuka peluang besar bagi mahasiswa untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan masyarakat. Inisiatif seperti ini diharapkan bisa menjadi contoh bagi daerah lain, khususnya di wilayah yang memiliki kekayaan seni dan budaya lokal yang belum tergali secara maksimal.

Penulis:
Yosan Pelaudia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Deni Putra

Tags

Rekomendasi

Terkini

X