Dies Maulidiyah VIII: Nafas Baru Ekonomi Global dari UIN Madura.

Photo Author
Kaperwil Sampang, Gertakberita.com
- Selasa, 3 Juni 2025 | 10:25 WIB

PAMEKASAN, Gertak.id – Forum Pengembangan Mahasiswa (UKK FPM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Madura kembali unjuk gigi lewat hajatan tahunan mereka, Dies Maulidiyah VIII. Selama hampir dua pekan, sejak 19 Mei hingga 1 Juni 2025, kampus di Jalan Raya Panglegur ini disulap menjadi arena dialektika, kreativitas, dan geliat wirausaha berbasis nilai Islam.

Tema yang diusung tahun ini bukan main: “Revitalizing the Global Economy Through Islamic Economic Values.” Tema ambisius itu menyiratkan mimpi besar mahasiswa FEBI: menawarkan jalan keluar bagi problem ekonomi global lewat pendekatan syariah.

Agenda dibuka dengan diskusi publik yang tajam. Bertajuk “Perspektif Ekonomi Syariah terhadap Fenomena Perdagangan Ilegal di Madura”, forum ini memanggungkan akademisi, aktivis, hingga Kepala Dinas Perdagangan Pamekasan. Mereka membedah praktik ilegal dari kacamata Islam. Solusi yang ditawarkan tak melulu soal regulasi, tapi juga kesadaran kolektif dan etika bisnis yang berakar pada nilai keadilan.

Gelombang antusiasme tak surut di seminar nasional bertema “Dakwah Digital Ala Gen Z”. KH Ismail Al-Kholilie, ulama muda Madura, jadi magnet utama. Ia mengajak peserta melihat media sosial sebagai mimbar baru dakwah Islam. “Bicara dakwah hari ini, kita tak bisa abai pada algoritma,” katanya, disambut tepuk tangan ratusan mahasiswa.

Tak hanya wacana. Dies Maulidiyah juga menghadirkan Entrepreneur Festival, panggung bagi pelaku UMKM lokal sekaligus laboratorium kewirausahaan mahasiswa. Lapak-lapak di halaman kampus menampilkan ragam produk lokal, dari kopi hingga kerajinan tangan, semua dibalut semangat ekonomi mandiri.

Sejumlah lomba nasional turut digelar: dari Lomba Karya Tulis Ilmiah, Business Plan, hingga Olimpiade Ekonomi Islam. Peserta datang dari berbagai kampus, menjadikan UIN Madura sebagai titik temu para pegiat ekonomi syariah muda.

Malam inagurasi jadi klimaks. Diiringi dentum tong-tong, seni musik khas Madura, para penampil menyulut suasana khidmat sekaligus meriah. “Kami ingin merayakan identitas lokal di tengah isu global,” ujar Ketua Panitia, Muhammad Ali Yusni.

Dekan FEBI, Prof. Zainal Abidin, menyebut kegiatan ini sebagai bukti keseriusan mahasiswa dalam mengutamakan nilai Islam dalam kehidupan kampus. “Ini bukan sekadar perayaan, tapi praktik nyata dari ekonomi beretika yang selama ini kita ajarkan,” katanya.

Pembina UKK FPM, Prof. Ummi Suprapti Ningsih, melihat lebih jauh: organisasi mahasiswa bukan hanya ruang belajar, tapi juga agen perubahan. “Kegiatan ini menunjukkan bahwa mahasiswa tak hanya mampu berbicara, tapi juga menawarkan solusi.”

Ubaidillah Rohim, Direktur Utama UKK FPM, menggarisbawahi bahwa Dies Maulidiyah VIII bukan akhir, melainkan awal dari gerakan besar.

“Kami ingin mahasiswa berpikir global, namun tetap berpijak pada akar Islam dan budaya lokal.”Jelasnya. Selasa 03 Juni 2025. (Moch)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Kaperwil Sampang

Rekomendasi

Terkini

X