Garut: 2 Januari 2025
Mahasiswa/i dari Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) STAIS Garut melaksanakan kegiatan observasi lapangan di Kampung Bareto, Kabupaten Garut. Observasi ini bertujuan untuk memahami praktik pendidikan anak usia dini berbasis lokalitas dan kearifan budaya setempat, serta memperkenalkan berbagai permainan tradisional Sunda kepada generasi muda.
Mengidentifikasi metode pendidikan anak usia dini berbasis budaya lokal.
Memahami peran masyarakat dalam mendukung perkembangan anak usia dini.
Menghubungkan teori pendidikan yang telah dipelajari di kampus dengan praktik nyata di masyarakat.
Kampung Bareto, desa wisata budaya di Garut, yang mempertahankan tradisi dan nilai-nilai lokal dalam kehidupan sehari-hari.
Pengamatan langsung: Mahasiswa/i mengamati interaksi anak-anak, orang tua, dan pendidik di lingkungan setempat.
Mahasiswa/i ikut serta dalam berbagai permainan tradisional, seperti:
Angklung: Bermain alat musik tradisional untuk melatih ritme dan kerja sama.
Kakawihan Sunda: Lagu-lagu tradisional Sunda untuk membangun kreativitas dan pengenalan budaya.
Oray-Orayan: Permainan berkelompok untuk melatih kekompakan.
Bakiak: Permainan kelompok yang mengajarkan keseimbangan dan koordinasi.
Cingur: Permainan tangkas tradisional.
Cacaburange: Aktivitas ceria yang melibatkan gerakan fisik.
Endog-Endogan: Permainan ketangkasan yang memadukan tradisi lokal.
Paciwit-Ciwit Lutung: Permainan ringan yang menyenangkan dan melatih kecepatan reaksi.Dosen yang hadir
Paridah Hidayat, M.Pd.
Dr.Rina Nurdiana. M.Ag
Paridah Hidayat, M.Pd. menyampaikan dalam sambutannya bahwa observasi ini merupakan kesempatan bagi mahasiswa/i untuk melihat bagaimana nilai-nilai budaya dapat diintegrasikan dalam pendidikan anak usia dini. Ia juga menekankan pentingnya pelestarian permainan tradisional sebagai salah satu cara membangun karakter anak. "Permainan tradisional tidak hanya sarana hiburan, tetapi juga memiliki nilai edukatif yang dapat membantu anak-anak memahami kerja sama, tanggung jawab, dan kearifan lokal. Ini adalah tugas kita bersama untuk melestarikannya," ujar Paridah.
Pemberi materi Angklung Dari kampung Bareto, Dr.Ari Kapin Menjelaskan Filosofi Alat Musik Tradidional Ini,Serta Bagaimana Angklung Dapat Digunakan sebagai media pendidikan untuk anak usia dini.
Nanang Anwar sebagai Instruktur semua kegiatan yang ada di kampung Bareto.
Ketua Pelaksana:
Selfie Azkia memimpin jalannya kegiatan dengan memastikan setiap tahap observasi berjalan lancar dan terorganisasi dengan baik.
Laporan observasi dengan analisis pola pendidikan anak usia dini berbasis budaya lokal.
Rekomendasi model pendidikan berbasis permainan tradisional untuk diterapkan di lembaga PAUD.
Penguatan pemahaman mahasiswa/i tentang pentingnya integrasi budaya lokal dalam pendidikan.
Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa/i PIAUD STAIS Garut untuk memahami praktik pendidikan berbasis budaya Sunda. Melalui bimbingan dosen dan keterlibatan dalam permainan tradisional, mahasiswa/i tidak hanya belajar, tetapi juga turut berkontribusi dalam pelestarian budaya lokal untuk membangun karakter generasi muda.( Yaman )