Meski mengusung judul Ambang Sandyakala Jurnalisme, Fafa menegaskan buku tersebut tidak bertujuan menebarkan pesimisme. Ia memaknai “sandyakala” sebagai fase transisi menuju masa yang lebih cerah dan meyakini pers akan tetap bertahan melalui integritas, inovasi, serta keberpihakan pada kepentingan publik.
Sementara itu, Sihono menilai buku tersebut lahir dari kegelisahan praktisi media yang merasakan pergeseran kebebasan pers pasca-Reformasi 1998.
“Buku ini menegaskan verifikasi idealnya memperkuat ekosistem, bukan menyisihkan. Ketika syarat administratif dan finansial diseragamkan tanpa empati pada realitas media kecil dan daerah, yang tereduksi bukan hanya jumlah perusahaan pers, tetapi juga keberagaman suara publik. Jurnalisme tumbuh dari kedekatan dengan warga, dari kerja tekun di lapangan, bukan semata dari neraca keuangan yang tebal,” tandas Sihono.
Hudono turut menyampaikan pandangan serupa. “Dalam konteks itulah saya mengapresiasi terbitnya buku Ambang Sandyakala Jurnalisme, Salam Sayang untuk Dewan Pers yang ditulis sahabat saya Mas Fafa."katanya
Dalam bukunya ini, beliau mencoba menyampaikan kegelisahannya ketika Dewan Pers berperan bak ‘wasit’ yang menentukan hidup matinya media. Kalau dulu, zaman Orde Baru, media bisa hidup berbekal Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Kini, setelah rezim perizinan terbit dihapus, giliran dicekam kekhawatiran keberlanjutan hidupnya terhenti, terutama media level UMKM, lantaran belum mengantongi label verifikasi Dewan Pers,” pungkasnya. (*)
Artikel Terkait
Bupati Sampang Raih Penghargaan SMSI Award 2025, Sejarah Mencatat Kepala Daerah Inovatif.
Peresmian Kantor Sekber IPJT Kabupaten Pekalongan, Wujud Kemandirian Organisasi Pers
Aksi Unjuk Rasa di Jakarta, Dewan Pers Serukan Profesionalisme dan Keselamatan Jurnalis
Winoto Jamin Terpilih sebagai Ketua Sekber Insan Pers Jateng DPC Pekalongan Raya Periode 2026 sampai 2029