pendidikan

Kemendikdasmen Targetkan Tak Ada Sekolah Rusak pada 2028

Sabtu, 3 Oktober 2026 | 08:48 WIB
Keterangan Foto: Gogot Suharwoto saat membuka Bimtek dan Finalisasi PKS Sekolah Dasar 2026 di Jakarta.

GERTAK.ID, JAKARTA - Target tidak ada lagi sekolah rusak pada 2028 menjadi salah satu arah transformasi yang dijalankan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Kebijakan tersebut mencakup pembenahan infrastruktur, pembelajaran, guru dan tenaga kependidikan, hingga pendidikan karakter.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Non Formal dan Informal, Gogot Suharwoto, menyampaikan hal itu saat membuka Bimbingan Teknis dan Finalisasi Dokumen Perencanaan dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Sekolah Dasar Tahun 2026 Angkatan 4 Tahap 1 di Jakarta.

Menurut Gogot, revitalisasi satuan pendidikan menjadi bagian dari transformasi infrastruktur dan sarana-prasarana. Sasaran prioritasnya mencakup sekolah terdampak bencana serta satuan pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

“Sekolah-sekolah yang rusak ringan, sedang, dan berat direvitalisasi. Target Presiden pada 2028 tidak ada lagi sekolah rusak,” ucapnya.

Karena itu, Gogot meminta dinas pendidikan segera melaporkan apabila masih terdapat sekolah yang mengalami kerusakan hingga mendekati target tersebut.

“Bapak/Ibu Dinas Pendidikan, kalau masih ada sekolah yang rusak sampai 2028, segera laporkan! Enggak boleh ada sekolah rusak tahun 2028,” ujarnya.

Selain revitalisasi, transformasi pendidikan diarahkan pada penguatan pembelajaran melalui digitalisasi. Salah satunya dengan pemberian papan interaktif digital (PID), yang disertai pelatihan Pembelajaran Mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial.

Gogot mengatakan pemanfaatan teknologi tersebut berkaitan dengan kebutuhan peserta didik dalam menghadapi perkembangan dunia yang semakin kompleks.

“Intinya anak-anak harus kita bekali ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mereka butuhkan saat ini. Karena mereka sudah menghadapi tantangan dunia global,” jelas Gogot.

Menurutnya, perkembangan internet of thing dan kecerdasan artifisial turut menghadirkan tantangan baru bagi peserta didik. Hal itu menjadi salah satu alasan pembelajaran perlu menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Dalam kesempatan tersebut, Gogot mengutip ungkapan filsuf pendidikan asal Amerika Serikat, John Dewey, mengenai pentingnya menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan masa kini.

“If we teach today’s students as we taught yesterday’s, we rob them of tomorrow.”

“Kalau kita mengajarkan anak kita bagaimana dulu kita belajar,” terjemah Gogot, “sama saja kita merampas masa depan anak-anak kita.”

Di sisi lain, evaluasi pembelajaran dilakukan melalui Tes Kemampuan Akademik (TKA). Gogot menegaskan bahwa TKA bersifat tidak wajib dan tidak menjadi syarat kelulusan sekolah.

Halaman:

Tags

Terkini