pendidikan

Islah Dicapai, Kepala SMAN 1 Panggarangan Tegaskan Polemik dengan Wartawan Hanya Kesalahpahaman

Jumat, 1 Mei 2026 | 14:28 WIB
Foto : SMAN 1 Panggarangan./Dok.Ist

GERTAK.ID, LEBAK - Polemik dugaan intimidasi terhadap dua jurnalis di lingkungan SMAN 1 Panggarangan, Kabupaten Lebak, Banten, berakhir damai. Pihak sekolah memastikan persoalan tersebut telah diselesaikan melalui proses mediasi dan klarifikasi yang melibatkan kedua belah pihak.

Kepala SMAN 1 Panggarangan, Cahya Irawan, S.Pd., M.Pd., saat dihubungi melalui pesan WhatsApp menyampaikan bahwa pertemuan telah dilaksanakan pada 30 April 2026. Mediasi tersebut turut dihadiri unsur organisasi pers.

“Alhamdulillah, kemarin (30/4) telah dilakukan pertemuan dan klarifikasi dari kedua belah pihak. Dihadiri oleh Ketua PWI Pokja Selatan, Kang Asep, Kang Deni S.MSi, dan Kang Supriyanto,” ujar Cahya, Jumat (1/5).

Ia menambahkan, hasil pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan bersama untuk menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.

“Dan kedua belah pihak sepakat menyatakan permasalahan sudah selesai dan sudah dilakukan islah. Alhamdulillah selesai, karena secara pribadi saya dengan Kang Marwan tidak ada masalah,” tambahnya.

Lebih lanjut, kepala sekolah menjelaskan bahwa peristiwa yang terjadi sebelumnya dipicu oleh kesalahpahaman. Ia menyebut pada saat itu dirinya tidak berada di tempat karena sedang menjalankan tugas dinas luar.

“Pada hari itu saya sedang dinas luar. Terjadi kesalahpahaman. Tidak ada pembahasan permintaan laporan BOS. Kedatangan Kang Marwan dan rekan hanya ingin bertemu kepala sekolah,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa selama ini SMAN 1 Panggarangan menjunjung keterbukaan terhadap insan pers.

“Selama 22 tahun berdiri, SMAN 1 Panggarangan selalu terbuka dan bersinergi dengan insan pers. Intinya peristiwa hari itu murni kesalahpahaman saja, dan alhamdulillah sudah clear,” tegasnya.

Sebelumnya, peristiwa ini sempat menjadi perhatian publik setelah muncul pemberitaan terkait dugaan perlakuan tidak menyenangkan terhadap dua wartawan yang datang untuk melakukan konfirmasi mengenai penyaluran anggaran pemerintah pusat periode 2024–2025.

Dalam laporan sebelumnya, kedua jurnalis mengaku mengalami tekanan, mulai dari nada bicara tinggi, pemeriksaan sepihak, hingga tidak diperkenankan meninggalkan area sekolah dalam kurun waktu tertentu. Peristiwa tersebut juga disebut melibatkan sejumlah oknum di lingkungan sekolah.

Namun demikian, melalui mediasi yang difasilitasi unsur organisasi pers, kedua pihak kini telah mencapai kesepahaman dan memilih menyelesaikan persoalan secara damai.

Meski telah dinyatakan selesai, sejumlah pihak berharap kejadian ini menjadi bahan evaluasi bersama, khususnya dalam membangun komunikasi yang lebih baik antara institusi pendidikan dan insan pers, serta menjaga prinsip keterbukaan informasi publik.

Tags

Terkini