pendidikan

Ketua Komisi 1 DPRD Sampang Angkat Bicara Terhadap Pendidikan, Penguatan Etika dan Moral

Jumat, 17 Oktober 2025 | 03:21 WIB

SAMPANG, Gertak.id - Moh. Salem Ketua Komisi 1, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sampang memberikan perhatian khusus terhadap lembaga pendidikan menjelang peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025. Di era modern, kondisi moral dan perilaku generasi muda dinilai semakin mengkhawatirkan. Banyak guru dan wali murid mengeluh terhadap perilaku anak didik yang kian sulit dikendalikan.

Ketua Komisi 1 DPRD Sampang, sekaligus pengamat pendidikan, Moh. Salim menyatakan, bahwa akar persoalan pendidikan saat ini bukan semata-mata pada kurikulum, melainkan lemahnya penanaman nilai-nilai moral dan etika dalam sistem pendidikan. “Kita sering lupa bahwa pendidikan bukan hanya soal angka dan administrasi, tapi juga tentang membentuk karakter dan kepribadian peserta didik,” jelasnya, Jumat (17/10/2025).

Menurut Salim, saat ini banyak tenaga pendidik terjebak dalam rutinitas administratif yang justru mengikis waktu dan perhatian terhadap pembinaan moral anak didik. “Guru terlalu disibukkan dengan tugas-tugas struktural dan laporan administratif. Hal itu membuat waktu mereka tersita, sehingga pembinaan karakter sering terabaikan,” ucapnya.

Ia menilai orientasi pendidikan lebih menekankan pemenuhan kewajiban formalitas daripada esensi pembinaan akhlak. "Yang penting administrasi beres, dokumen lengkap, tapi kita lupa bagaimana menjaga perilaku anak didik, baik di sekolah maupun di luar sekolah,” terangnya.

Untuk itu pentingnya kolaborasi antara sekolah, guru, dan orang tua untuk memastikan nilai-nilai moral yang diajarkan di sekolah tetap berlanjut di rumah. Sebagai contoh, waktu belajar di sekolah hanya sekitar lima hingga enam jam per hari, sedangkan sisanya anak berada di lingkungan keluarga dan masyarakat. “Ada 18 jam lebih yang tidak terpantau guru. Maka di situlah pentingnya peran orang tua untuk melanjutkan pendidikan karakter di rumah,” paparnya.

Dalam hal ini, peran Komite Sekolah juga diperlukan, sehingga tidak hanya berfungsi sebagai formalitas atau pelengkap administratif, tetapi menjadi jembatan aktif antara sekolah dan wali murid dalam mendukung pembinaan karakter siswa. “Komite sekolah perlu dimaksimalkan agar pesan moral dan pembinaan perilaku anak tidak terputus antara lingkungan sekolah dan keluarga,” imbuhnya.

Ia juga menyinggung peran Dewan Pendidikan yang dinilai masih terbatas pada fungsi struktural semata. “Seharusnya Dewan Pendidikan tidak hanya menjadi cermin dari birokrasi pendidikan, tetapi juga menjadi penggerak moral bagi sistem pendidikan di daerah,” tegas Salim.

Ia berharap pada momentum HSN tahun ini menjadi refleksi bersama bagi seluruh elemen pendidikan di Sampang. “Pendidikan moral harus kembali menjadi ruh dari dunia pendidikan. Tanpa itu, sehebat apapun kurikulumnya, kita akan kehilangan arah dalam mencetak generasi yang berkarakter dan berakhlak,” tandasnya. (Moch).

Terkini