nasional

Banjir dan Longsor Sumut Masih Mengancam: BMKG Jelaskan Awal Terbentuknya Bibit Siklon Tropis 91S

Rabu, 10 Desember 2025 | 04:35 WIB
Banjir dan Longsor Sumut Masih Mengancam: BMKG Jelaskan Awal Terbentuknya Bibit Siklon Tropis 91S./Dok.BNPB

Sumut, Gertak.id - Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara (Sumut) pada akhir November 2025 berdampak pada 18 Kabupaten. Berdasarkan laporan terkini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Selasa, 9 Desember 2025, sebanyak 338 warga dilaporkan meninggal dunia.

“Jumlah pengungsi berdasarkan kabupaten atau kota, Tapanuli Tengah sebanyak 18,3 ribu, Langkat sebanyak 11,1 ribu, hingga Humbang Hasundutan sebanyak 2,2 ribu,” tulis BNPB.

Seiring penanganan bencana yang masih berlangsung, sebagian masyarakat kini mencemaskan potensi hujan lebat yang diprediksi kembali mengguyur Sumut. 

Kekhawatiran tersebut muncul setelah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi bibit siklon tropis 91S yang berpotensi meningkatkan curah hujan dalam sepekan ke depan.

Melalui laporan video di kanal YouTube @IndoBMKGIndonesia pada Selasa, 9 Desember 2025, BMKG menjelaskan awal terbentuknya sistem tersebut.

“Bibit Siklon Tropis 91S terbentuk pada 7 Desember 2025 di wilayah Samudra Hindia barat daya Lampung di dalam Area of Responsibility (AoR) TCWC Jakarta,” tulis BMKG. 

“Saat ini kecepatan angin maksimum sekitar 20 knot (37 km/jam) dan tekanan udara minimum 1008 hPa,” tambahnya.

BMKG memproyeksikan bahwa dalam 24 jam bibit siklon tersebut akan berkembang menjadi siklon tropis kategori rendah. 

Sebelumnya, BBMKG Wilayah I juga melaporkan hasil identifikasi awal siklon 91S yang memicu belokan angin dan konfluensi atau pertemuan massa udara di Sumut.

Secara terpisah, Kepala BBMKG Wilayah I, Hendro Nugroho, menjelaskan bahwa kondisi tersebut meningkatkan potensi hujan deras di wilayah terdampak.

“Bibit Siklon Tropis 91S juga didukung oleh aktifnya gelombang atmosfer dan MJO di sekitar pusat sirkulasinya,” kata Hendro dalam keterangan resmi pada Senin, 8 Desember 2025. “Kondisi IOD negatif masih akan berlangsung hingga bulan Desember 2025,” imbuhnya.

Hendro menambahkan bahwa suhu muka laut hangat, berkisar 29–30 derajat Celsius, serta kelembapan udara tinggi menjadi faktor yang menambah suplai uap air ke atmosfer.

“Dengan adanya faktor-faktor ini, wilayah Sumatera Utara diprediksi akan menerima tambahan uap air,” terangnya. “Sehingga terjadi peningkatan pembentukan awan-awan hujan khususnya di wilayah pantai barat,” sambungnya.

BBMKG Wilayah I merinci sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat, termasuk Kabupaten Dairi, Pakpak Bharat, Humbang Hasundutan, serta wilayah Nias seperti Nias Selatan, Nias Utara, dan Nias Barat. Kota Gunungsitoli, Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, dan Tapanuli Selatan turut masuk dalam daftar wilayah berisiko.

Halaman:

Tags

Terkini