Ancaman Driftwood Pascabanjir Sumatera, Ferry Irwandi Soroti Risiko Jembatan dan Banjir Susulan

Photo Author
Atippudin, Gertakberita.com
- Rabu, 24 Desember 2025 | 10:22 WIB
Ferry Irwandi Ungkap Bahaya Kayu Besar di Balik Banjir Bandang Sumatera./Dok.Instagram@irwandiferry
Ferry Irwandi Ungkap Bahaya Kayu Besar di Balik Banjir Bandang Sumatera./Dok.Instagram@irwandiferry

Sumatera, Gertak.id - Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir November 2025 masih menyisakan persoalan serius dalam tahap pemulihan pascabencana.

Hingga kini, berbagai akses vital dilaporkan mengalami kerusakan, mulai dari jembatan yang runtuh, jalan terputus, hingga distribusi bantuan yang tersendat di sejumlah daerah terdampak.

Di tengah upaya pemulihan tersebut, persoalan material sisa banjir di sepanjang aliran sungai justru kerap luput dari perhatian. Gelondongan kayu berukuran besar yang terbawa arus deras kini berubah menjadi ancaman lanjutan karena tidak hanya menyumbat aliran air, tetapi juga memperbesar daya rusak banjir, terutama saat tersangkut di jembatan atau tikungan sungai.

Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko banjir susulan sekaligus memperlambat pemulihan wilayah terdampak.

Terkait hal itu, influencer sekaligus aktivis kemanusiaan Ferry Irwandi mengangkat persoalan tersebut melalui pendekatan ilmiah. Melalui akun Instagram pribadinya @irwandiferry pada Selasa, 23 Desember 2025, Ferry memaparkan analisis berbasis ilmu fluida dan hidrodinamika.

“Semalam belajar ulang soal fluide, hipotesis gue sejauh ini, yang menghancurkan jembatan itu bukan cuma deras airnya saja tapi batang kayu besar yang dibawa,” tulis Ferry.

CEO Malaka Project tersebut menilai penanganan puing kayu seharusnya menjadi prioritas utama dalam strategi pemulihan pascabencana, bukan sekadar pekerjaan tambahan setelah banjir surut.

Ia menyoroti fenomena serupa yang terjadi di sejumlah wilayah terdampak banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Menurut Ferry, karakter daerah aliran sungai di wilayah tersebut memiliki kemiripan dengan negara-negara yang kerap menghadapi banjir bandang. 

“Kita bikin simpel, kayu-kayu besar ini disebut driftwood, negara macam US, Jepang, Swiss menghadapi masalah yang sama,” terang Ferry.

Ferry menjelaskan bahwa batang kayu besar yang terbawa arus memiliki dampak signifikan terhadap kekuatan banjir.

“Secara hidrodinamika, batang kayu-kayu besar yang terbawa arus itu meningkatkan drag force (gaya hambat) dan impact load (beban benturan) yang menciptakan beban dan tekanan tambahan,” jelasnya.

“Terutama di titik-titik sempit seperti jembatan dan tikungan sungai,” tambah Ferry.

Ia menilai tekanan tambahan tersebut menjadi salah satu penyebab runtuhnya banyak jembatan meskipun struktur bangunan masih relatif kuat. Dalam pandangannya, kayu-kayu besar itu berubah menjadi hantaman berulang yang mempercepat kerusakan infrastruktur.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: M Faiz Afianda

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X