Lebih lanjut, Hasto menuturkan bahwa Megawati sebenarnya sempat mengusulkan alternatif proyek yang lebih merata manfaatnya bagi masyarakat.
Alih-alih membangun kereta cepat, Megawati disebut mendorong pembangunan jalur ganda atau double track di berbagai wilayah, termasuk di Pulau Sumatera.
“Saat itu Ibu Mega mengusulkan daripada kereta api cepat lebih baik untuk membangun double track kereta api termasuk misalnya di Sumatera,” pungkas Hasto.
Usulan tersebut, kata Hasto, didasarkan pada pandangan bahwa pemerataan pembangunan transportasi di berbagai daerah akan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Pernyataan Hasto ini menambah daftar kritik yang muncul terhadap proyek Kereta Cepat Whoosh, terutama setelah isu beban utang dan efisiensi proyek kembali mencuat ke publik
Artikel Terkait
UMK Lebak 2025 Terendah di Banten, Dipimpin Bupati Terkaya dan Penghasil Gula Aren Terbaik Indonesia
Pembangunan IKN Mirip dengan Proyek Whoosh tanpa APBN, Pengamat Sebut Ada Kebohongan Meski Gembar-gembor Dana dari Investor
Hasan Nasbi Bandingkan Program Makan Bergizi Gratis dengan PMTAS Era Soeharto
Menteri PU Sebut Diskusi Soal Diskon Tarif Tol Nataru 2026 Masih Alot