bisnis

Penyertaan Modal BUMDes Rp186,2 Juta, Desa Cihara Fokus Kembangkan Usaha Serap Gabah dan Produksi Beras

Sabtu, 11 Juli 2026 | 18:12 WIB
Keterangan foto: Ilustrasi aktivitas BUMDes Cihara dalam penyerapan gabah petani dan pengolahan menjadi beras sebagai bagian dari Program Ketahanan Pangan Tahun 2025. /Ilustrasi AI/Gertak.id

GERTAK.ID, LEBAK - Pemerintah Desa Cihara, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, terus mengembangkan Program Ketahanan Pangan Tahun Anggaran 2025 melalui penyertaan modal kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dana yang dikelola BUMDes sebesar Rp186.281.800 dimanfaatkan untuk pengadaan mesin penggilingan padi serta modal usaha penyerapan gabah dan produksi beras.

Kepala Desa Cihara, Rohim Supriyadi, menjelaskan dana yang dikelola BUMDes difokuskan untuk mendukung pengembangan usaha di sektor pertanian.

"Dana yang dikelola BUMDes sebesar Rp186.281.800 digunakan untuk pembelian mesin penggilingan padi dan sebagai modal usaha," ujar Rohim saat dikonfirmasi, Sabtu (11/7/2026).

Sementara itu, Sekretaris Desa Cihara, Akhmad Yani, mengatakan Program Ketahanan Pangan Tahun Anggaran 2025 diarahkan untuk memperkuat sektor pertanian melalui unit usaha BUMDes.

"Program ketahanan pangan melalui BUMDes difokuskan pada sektor pertanian," katanya.

Menurut Akhmad, saat ini BUMDes telah memasuki tahap pembelian gabah hasil panen petani yang selanjutnya diolah menjadi beras.

"Progres kegiatan BUMDes saat ini berfokus pada pembelian gabah petani dan pengolahannya menjadi beras," jelasnya.

Ia menegaskan seluruh pelaksanaan kegiatan tetap mengacu pada perencanaan yang telah disusun sesuai Rencana Anggaran dan Biaya (RAB).

"Kegiatan BUMDes dilaksanakan sesuai perencanaan awal yang telah disusun dalam Rencana Anggaran dan Biaya," ujarnya.

Akhmad menilai program tersebut mulai memberikan manfaat bagi masyarakat. Petani memiliki alternatif tempat menjual hasil panennya, sementara masyarakat dapat memperoleh beras yang diproduksi melalui pengelolaan BUMDes.

"Masyarakat dapat menjual gabah hasil panennya dan memperoleh beras dari hasil pengelolaan BUMDes," katanya.

Meski demikian, pelaksanaan program masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama persaingan harga pembelian gabah dengan harga pasar serta kualitas gabah yang belum selalu memenuhi standar pengolahan.

Untuk mengatasi kendala tersebut, pemerintah desa bersama pengelola BUMDes melakukan pendampingan kepada petani melalui kelompok tani agar kualitas hasil panen terus meningkat.

"Pendampingan kepada petani terus dilakukan bersama kelompok tani agar kualitas gabah yang dihasilkan semakin baik," tambah Akhmad.

Halaman:

Tags

Terkini