SULAWESI UTARA, Gertak.id – Dugaan praktik mafia BBM subsidi di Sulawesi Utara semakin menjadi sorotan publik. Sejumlah nama, seperti F.R (Frenli) dan R.I (Enal), disebut-sebut terlibat dalam jaringan distribusi ilegal solar subsidi yang diduga telah berlangsung secara terorganisir. Selasa (14/04/2026).
Berdasarkan informasi yang beredar, modus operandi yang digunakan meliputi pembelian BBM subsidi dalam jumlah besar, penimbunan di lokasi tertentu, hingga penjualan kembali dengan harga non-subsidi demi keuntungan tinggi. Aktivitas ini diduga sudah berjalan cukup lama dan melibatkan jaringan yang rapi.
Meski isu ini telah mencuat luas, publik mempertanyakan belum adanya tindakan tegas dari aparat penegak hukum. Sebelumnya, sempat muncul kabar mengenai keterlibatan tim dari pusat yang diharapkan mampu mengusut kasus ini. Namun hingga kini, belum terlihat langkah nyata yang menyasar aktor utama.
Kondisi tersebut memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Banyak pihak menilai penegakan hukum terkesan tidak maksimal, bahkan muncul dugaan adanya perlindungan dari pihak tertentu yang memiliki pengaruh.
Isu mengenai adanya “bekingan” semakin memperkuat kecurigaan publik. Jika benar, hal ini dinilai sebagai ancaman serius terhadap sistem hukum dan tata kelola distribusi energi di daerah.
Media dan masyarakat sipil kini mengambil peran penting sebagai pengawas. Gertak.id, sebagai bagian dari kontrol sosial, menegaskan tidak akan tinggal diam.
“Jika aparat hanya sebatas gertak tanpa tindakan, maka kami akan terus membuka, mengawal, dan mempublikasikan fakta-fakta yang ada. Ini bukan sekadar isu—ini menyangkut hak rakyat dan kerugian negara,” tegas suara yang berkembang.
Praktik mafia BBM subsidi dinilai membawa dampak besar, di antaranya kerugian negara, kelangkaan BBM bagi masyarakat kecil, serta menurunnya kepercayaan publik terhadap penegakan hukum.
Kini, masyarakat menanti langkah konkret dari aparat terkait. Apakah kasus ini akan diusut tuntas hingga melibatkan semua pihak yang terlibat, atau kembali menghilang tanpa kejelasan, masih menjadi tanda tanya besar. (Noval/Tim)