HALMAHERA UTARA, Gertak.id – Sebuah flayer berisi kritik terhadap delapan anggota DPRD Kabupaten Halmahera Utara dari Daerah Pemilihan (Dapil) Galela-Loloda viral di media sosial pada Senin (20/4/2026). Dalam flayer tersebut, para wakil rakyat digambarkan seolah “orang hilang”, sebagai bentuk sindiran atas minimnya kehadiran mereka di tengah masyarakat.
Delapan anggota DPRD yang tercantum dalam flayer itu antara lain Kristina Lesnusa, Abdila Bailusy, Irwan Djam, Fahmi Musa, Romeo Lindang, Julhija Rasaji, M. Iksan Wan, dan Budianto Gawasala. Kritik tersebut mencuat karena dinilai belum optimal menjalankan tugas dan fungsi sebagai perwakilan rakyat.
Mantan Ketua FAMUL-MU, Ival Djini, menyebut flayer tersebut sebagai bentuk aspirasi masyarakat akar rumput yang merasa kurang diperhatikan. Menurutnya, kritik yang muncul harus dilihat sebagai bagian dari evaluasi terhadap kinerja DPRD.
“Ini hal yang wajar dan merupakan bentuk evaluasi publik. Masyarakat ingin melihat fungsi DPRD berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Ival saat diwawancarai.
Ia menegaskan bahwa DPRD memiliki tiga fungsi utama, yakni pembentukan peraturan daerah, penganggaran, dan pengawasan. Ketiga fungsi tersebut harus dijalankan secara seimbang dengan tetap menyerap aspirasi masyarakat.
Lebih lanjut, Ival menyoroti lambatnya respons DPRD terhadap berbagai persoalan di wilayah Loloda, mulai dari bencana alam seperti banjir dan longsor, kecelakaan laut, hingga kenaikan tarif transportasi darat rute Tobelo-Loloda.
“Banyak peristiwa terjadi, tapi respons DPRD sangat minim. Masyarakat jadi mempertanyakan peran mereka,” tegasnya.
Ia berharap kritik yang viral ini dapat menjadi perhatian serius bagi para anggota dewan untuk lebih aktif turun ke lapangan dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Melalui flayer tersebut, warga Loloda dan Galela berharap adanya perubahan nyata, khususnya dalam peningkatan kehadiran dan kinerja DPRD dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.